Friday, July 28, 2017

Sepiring Makanan Kucing

Setiap menjejakkan kaki ke pasar, ia tak pernah lupa mampir ke pedagang ikan. Membeli pindang sekedar tiga-empat ribu rupiah, untuk ia bawa pulang ke rumah. Suwiran pindang itu ia campurkan bersama beberapa sendok nasi hangat dalam piring di dapurnya.

Entah sudah berapa dinasti kucing pernah singgah di rumahnya. Apakah ia pecinta kucing? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Ia selalu bilang kucing itu makhluk tuhan juga maka sekedar memberi makan termasuk tugasnya.

Saya? Saya tak punya perasaan begitu mendalam pada kucing. Kecuali dulu, pernah sekali dicakar saat sedang mandi. Saya tak punya perhatian khusus terhadap kucing, tak seperti teman saya lainnya yang seolah sudah saling mengenal dengan kucing. Kalau saya punya ikan atau ayam sisa, baru saya berikan, pun saya selalu bertanya, apa mereka suka jenis makanan seperti itu? Maka, saat ini, belumlah saya seperti mereka-mereka yang begitu memperhatikan kucing-kucing di sekitar rumahnya.

Saya jadi berpikir, perihal sederhana semacam itu saja sudah bisa menjadi pembeda antar amal manusia. Ada orang-orang yang mendulang pahala dari satu kebaikan, ada pula yang mengabaikannya. Masing-masing bergantung karakter personal dan kondisinya.

Cukuplah ingat kisah seorang wanita pendosa yang bertaubat kemudian memberikan sekedar air kepada anjing yang kehausan, apa yang Allah janjikan? Surga.

Ingatlah juga begitu santunnya akhlak rasulullah terhadap kucing sekalipun, karena beliau tahu betul kasih sayang Allah meliputi seluruh makhluknya tanpa terkecuali.

Ada banyak cara untuk berbuat kebaikan. Semoga keimanan senantiasa mengiringi kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan.

Jumat, 28 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day23

No comments:

Post a Comment