Sunday, July 20, 2014

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 2)

Setelah sebelumnya kita berusaha memahami beberapa alasan kenapa mendidik itu harus pakai ilmu, postingan kali ini mulai masuk ke bahasan utama, yaitu : gimana cara menanamkan aqidah pada anak kita.

Menurut saya, kenapa ini rasanya menjadi lebih berat, karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Teko yang kosong tidak bisa menuangkan isinya pada gelas. Kalau orangtuanya belum baik aqidahnya, mana pantas menuntut anak untuk shaleh?

* * * *

Bismillah..
Rasul bilang : baiti jannati, rumahku surgaku.
Bukan tetanggi jannati (?) bahkan bukan madrasati jannati (?)
Karena semua selalu berawal dari rumah (keluarga) dan akan kembali pada keluarga. Periksalah orang-orang hebat, apakah karena sekolahnya yang hebat? Atau dari rumahnya? biasanya mereka berasal dari keluarga yang hebat dalam pendidikan.
Kata abah, orang israel sudah sejak 1969 punya pendidikan khusus untuk para orangtua. Alhamdulillah di indonesia juga sudah semakin banyak yang sadar akan pentingnya hal ini.

AQIDAH ITU IKATAN..
Aqidah itu ikatan, maka anak kita harus terikat, pada sesuatu yang benar.
Apa yang terikat?
Yang terikat itu hati dan pikirannya.
Terikat pada apa?
Allah. Bukan semata hanya karena takut, tapi karena bahagia, karena sadar. Kita harus kenal dan mengenalkan ini sama anak kita.

Otak sebagai pusat pengendali tubuh, membutuhkan "installan software" yang benar agar seluruh "hardware" tubuh juga berjalan dengan benar.

Dan ini yang bikin saya merinding:
"Kalau bukan kita sebagai orangtua yang menginstall software otak anak kita, maka DEMI ALLAH, akan ada orang lain yang menginstallkan."

*tv, sinetron, internet, games, lagu, fashion, dll*

POLA RASULULLAH MENDIDIK ANAK SHALAT
mari belajar dari SOP Rasulullah dalam mendidik anak shalat. Usia 7 tahun anak sudah mulai disuruh shalat, dan kalau sudah usia 10 tahun belum mau shalat, baru boleh dipukul. Artinya ada masa 3 tahun minimal untuk mendidik anaknya mau shalat.

Sekali lagi, bukan sekedar menyuruh-nyuruh shalat loh yaa. Ajakan untuk shalat harus diiringi dengan rasa cinta kita (orangtua) pada dzat yang hidup kita dalam genggamannya.
Kalau kita belum khatam kisah kisah nabi dan rasul, belum khatam 99 nama-nama allah (asmaul husna), siapa yang mau kita kenalkan?
Lagipula siapa sih yang suka disuruh-suruh?

UNSUR PENTING UTAMA DALAM AQIDAH
1. Jaga pikiran anak
JAGA RASA KEINGINTAHUAN ANAK. ketika kita sedang capek sekalipun, jangan pernah mematikan rasa ingin tahu mereka, tumbuhkan dengan baik sikap penasaran anak.

Gimana caranya?
Budayakan berdialog, DUA ARAH. namanya dialog, yang bicara kan ngga hanya 1 pihak. Ajak anak bicara, biarkan mereka mengekspresikan rasa penasarannya.
Metode paling rendah dalam pendidikan adalah : memberi tahu langsung jawabannya pada anak. Seharusnya kita memfasilitasi anak untuk dapat menemukan jawabannya, proses penemuan adalah hal yang penting untuk perkembangan pikiran anak.

Contoh
"Ayah/bunda, kenapa sih itu bisa kaya gitu?"
(Ceritanya Kalo lagi sibuk)
Jawaban kurang oke : jawab seenaknya, ngasal, bohong, nyuruh anak diem.
Jawaban lumayan oke : kakak pengen tau ya? Bunda belum bisa jawab sekarang sayang, sedang ada yang bunda kerjakan. Kalau bunda jawab setelah ini, boleh ya? :)
Atau : (kalo ngga tau) wah bunda belum tahu jawabannya, tapi akan bunda bantu carikan jawabannya setelah urusan bunda selesai. Kakak mau bersabar sebentar, ya?

2. Kenalkan pada Allah
Mungkin banyak dari kita mengetahui teori teori ilmu aqidah. Dipelajari, tapi dalam prakteknya entah bagaimna mengaplikasikannya. Selama ini kita seringnya diajarkan keterampilan beragama, bukan keyakinan. Sehingga kita hanya bisa shalat, tapi belum mencintai shalat. Sehingga kita hanya tau teori, tapi tak nampak dalam kehidupan sehari-hari.

Perbanyak pengetahuan kita ttg Allah, maknai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak membaca, terus belajar. Tidak mudah, tapi berusahalah.

Karena bagaimana bisa mengenalkan sesuatu yang kita sendiri tidak kenal?

Dua hal yang menjadi objek ketakjuban anak-anak
1. Tentang Diri mereka sendiri
2.Tentang alam semesta

Suburkan rasa keingintahuan mereka.

* * * *

Abah ihsan kemudian menyuruh kami berpasang pasangan untuk saling bersalaman dan mengucapkan komitmen diri untuk terus belajar. Saat itu partner saya seorang ibu muda, mba tiktik. Saling berangkulan, sibuk dengan pikiran masing masing pada sebuah amanah yang cepat atau lambat akan segera datang.

* * * *

Ahad, 20 juli 2014 02:49
Hajah Sofyamarwa Rachmawati,
A daughter, future wife, future mother, insyaallah :)

*peserta dapat hardcopy handout, kontennya bagus juga. Bagi yang mau, mangga kontak saya ya, nanti bisa dkirim via whatsapp. Lagi ngga bisa upload gambar disini hehe :)

2 comments:

  1. mbak aq ijin share boleh ya :) maksih ilmunya

    ReplyDelete
  2. mbak..saya mau hardcopy handout..wa saya 085655588936..tq alot :*

    ReplyDelete