Sunday, January 1, 2012

Ibunda Hajar (Resume Buku) #1


Perjuangan Siti Hajar pantas menjadi inspirasi bagi perempuan dan laki-laki muslim. Siti Hajar telah memanifestasikan semangat perjuangan, ketegaran, dan keteguhan hati perempuan dalam menghadapi cobaan Tuhan.
Saparinah Sadli, Pendiri Komnas Perempuan

Siti Hajar tidak pernah putus asa untuk terus berharap
akan datangnya pertolongan Allah. Upaya tak kenal lelah inilah yang
akhirnya mengundang barakah Allah.
Ir H Adiwarman A Karim, MBA, MAEP

Kekuatan akidah, kesabaran jiwa, ketawakalan hati, kekuatan mental, dan segala keutamaan yang tersemat pada sosok Siti Hajar adalah teladan bagi kita.
REPUBLIKA

Perpaduan iman-ilmu-amal yang terpatri kuat mengantarkannya sebagai wanita bermanajerial tinggi dalam menghadapi problem kehidupan.
KOMPAS

Tulisan ini merupakan upaya pengikatan makna yang dilakukan setelah membaca buku Ibunda Hajar: Kisah kekuatan Cinta, Iman dan Pengorbanan. Saat membelinya (dengan harga diskon tentu saja) beberapa hari lalu langsung saya ikhtiarkan untuk membacanya habis. Salah satu hal yang melatarbelakangi saya adalah sebetulnya saya ingin menggali filosofi dari nama saya! Hehe. Mungkin ide tulisan ini akan terbagi menjadi beberapa bagian: (1) resume : konten buku, opini mengenai buku, dan (2) filosofi nama ;)
Mari memulainya! Bismillah..



Buku Ibunda Hajar ini ditulis oleh Dedi Ahimsa. Saya suka cover bukunya karena nampak menarik dan misterius. Hehe. Buku setebal kurang lebih 177 halaman ini ditulis dengan gaya menceritakan kisah sejarah namun kita pembaca dapat menikmatinya sebagai untaian cerita. Isi bukunya terdiri dari 8 chapter bisa dibilang, dan tiap chapternya memfokuskan pada suatu kisah yang berbeda. Sebetulnya, pada awalnya saya pikir, buku ini benar-benar mengupas tentang Siti Hajar selengkap-lengkapnya, ternyata dalam penceritaannya memang mungkin tak bisa lepas dari Putri Sarah dan Nabi Ibrahim. Alur ceritanya agak flashback, bahasanya cukup enak, membuat kita mudah berimajinasi dengan gaya bahasa yang 'romantik', namun terkadang memang terasa agak kurang to the point (mungkin karena saya nya yang ngga sabaran hehe). Cerita yang ditulisnya berdasar, diberikan catatan kaki yang dapat dibaca oleh pembaca di halaman akhir sebagai rujukan. Sip!

Saya sangat tertarik sejak membaca di awal chapter: 
            1. Benih Untuk Tanah yang Mati. Di awal bacaan langsung disuguhkan kisah saat Siti Hajar ditinggalkan Nabi Ibrahim di Padang pasir Mekkah yang sedang musim kering,  tanpa sumber makanan dan minuman tersisa, tanpa adanya kafilah yang lewat,  suhu hingga 47 derajat, membawa ismail dalam dekapannya, dengan kondisi yang nyaris tanpa alas kaki. Diceritakan bagaimana perasaannya saat ditinggal Nabi Ibrahim, yang nyaris tak pernah menoleh ketika dipanggil. Menjauh.. Semakin menjauh.. Hingga terlihat hanya bayangan hitam saja yang semakin menjauh.

Wajahnya yang tampan tampak lelah lusuh bermandi keringat.. Tetes peluh jatuh satu-satu melewati ujung janggutnya yang memutih. Di tengah sahara yang memanggang, pandangan matanya itu menyejukkan. Bibirnya yang kering rapat terkatup. Tak terdengar sepatah kata pun. Ia hanya memandang wanita di hadapannya yang berdiri limbung dengan tatapan yang lembut.
Wanita itu mematung tak bersuara.. Ia hanya dapat berbisik dalam hati, sejatinya, aku takkan memintamu berkata-kata. Pandangan matamu cukup menyatakan apa yang tersimpan dalam hatimu. Aku dapat merasakan cinta dan kelembutan kasihmu. Aku tahu, dan aku yakin, cintamu tak pernah berubah sedikit juga. Luasnya padang pasir ini takkan kuasa menampung seluruh cintamu kepadaku, juga kepada putra terkasihmu..

Saya semakin penasaran, bukankah Siti Hajar adalah istrinya? Lantas mengapa tega meninggalkannya sendirian? Pertanyaannya akan terjawab di chapter-chapter berikutnya.
Disini dapat tergambar bahwa nabi ibrahim sangat mencintai istrinya, Siti Hajar, karena Allah tentunya. Tapi ingatkah dengan Sarah?

  1. Terdampar di Mata Air Cinta
Chapter ini menceritakan Siti Hajar. Dalam catatan kakinya dari Qishash al-Anbiya'  dikisahkan Hajar adalah putri seorang raja Maroko, keturunan nabi Shaleh a.s. Ayahnya terbunuh oleh Fir'aun Dzu Al-Arsy. Sementara riwayat lain menyebutkan Hajar adalah putri seorang raja Mesir. Pada intinya, saat Fir'aun di zamannya berkuasa, masyarakat dijadikan budak istana. Hajar yang latarbelakangnya bisa manajerial ditempatkan sebagai pemimpin budak budak wanita di istana.
Disini dikisahkan ketika Ibrahim datang bersama Sarah yang cantik jelita. Diakui ibrahim sarah adalah adiknya. Fir'aun yang menyukai wanita mencoba mendekati sarah, namun tidak tahu apa yang terjadi, Fir'aun terlihat ketakutan dan mengusir mereka berdua, kemudian menghadiahkan mereka seorang budak. Hajar lah orang nya, dan dia merasa menjadi orang  paling beruntung sedunia.

  1. Abu Rahim, Mata Air Cinta
Chapter ini mengisahkan sosok ibrahim yang meyakini keesaan Tuhan, Allah. Lahir di Ur, menentang adat dan kepercayaan kaum sekitarnya, bahkan ayahnya sendiri, Azar, Sang pembuat patung sembahan. Kecerdasan dan keyakinannya membuat raja Namrudz murka. Raja itu sebetulnya meyakini Tuhan Ibrahim, namun ketakutan akan hilangnya kekuasaan membuatnya gelap mata. Itulah yang membuat Ibrahim dibakar hidup-hidup di tengah lapangan besar dan disaksikan masyarakat luas. Sudah tahukan, mu'jizat api yang menjadi dingin? Allah yang memerintahkan api itu menjadi dingin dan melindunginya. Ibrahim kemudian pergi dan hijrah menuju Palestina untuk menyeru yang lainnya. Di persinggahan di daerah Haran, Ibrahim menikahi Sarah, Putri raja Haran. Punya keyakinan yang sama, menentang kepercayaan kaumnya yang menyembah berhala dan bintang-bintang.

  1. Cinta Tanpa Jeda
Di chapter ini Sarah dikenalkan sebagai putri raja Haran yang sepaham dengan Ibrahim mengenai kesalahan penyembahan berhala. Setelah menikah, berjuang bersama-sama menyebarkan ketauhidan kepada Allah. Di kan'an (Palestina) Ibrahim membangun sistem kemasyarakatan yang baik dengan mengenalkan berbagai teknik bercocok tanam dan pengolahan hasil bercocok tanamnya pada para penduduk. Keahlian menggembala dan kepiawaiannya dalam berdagang juga membuat Ibrahim dan Sarah mudah diterima masyarakat dan membuat daerah itu berkecukupan secara materi. Ibrahim yang disegani lama-lama timbul kedengkian dari sekitar, yang kemudian membawa-bawa ajaran yang dibawanya, dan mengatakan mereka adalah tukang sihir. Akhirnya mereka memutuskan untuk hijrah ke Qibthi (mesir). Di mesir sudah lebih maju, dikenal juga sebagai negeri yang kaya raya. Sistem pertanian dan olahannya baik, sistem irigasi dan bendungan dari sungai Nil baik, Tanahnya subur dan sitem budidaya perikanan juga baik. Ke negeri itulah ibrahim dan Sarah memutuskan berhijrah dan mengembangkan fikrah keislaman.
Ternyata mereka mendapati Mesir juga masih menganut kepercayaannya menyembah matahari, bintang, dewa dan aspek alam lainnya. Ternyata penduduknya lebih sulit menerima ajaran Ibrahim, ditambah lagi kuatnya pengaruh fir'aun di jaman itu (lihat lagi chapter 2 dimana Ibrahim mengakui sarah sebagai adiknya). Hal tersebut dilakukan ternyata semata-mata untuk pengambangan dakwah islam. Bila Ibrahim mengakui sarah sebagai istrinya, Ibrahim akan dibunuh, dan pengikutnya belum cukup kuat, sedangkan mereka belum juga memiliki keturunan. Awalnya sarah menolak, namun dengan kuatnya kecintaan pada Allah, mereka siap dengan segala resikonya.

  1. Suamimu Bukanlah matahari
Disinilah fase yang paling berat bagi seorang istri -menurut saya. Ketika akhirnya mereka hijrah ke Palestina, Sarah didera kehampaan. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak juga dikaruniai keturunan. Hubungan Ibrahim-Sarah-Hajar sangat baik, layaknya keluarga yang saling mengasihi. Kondisinya hajar memang budak hadiah, namun sejatinya dia putri raja yang merdeka dan punya keyakinan bahwa Allah Tuhan Ibrahim lah yang patut disembah. Sampai pada suatu ketika, Sarah memnita Ibrahim menikahi Hajar agar didapatkan keturunan, Anak yang lahir menjadi anak Sarah dan Ibrahim. Berbagai penolakan dilakukan krn cintanya pada Sarah. Berbagai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi telah Ibrahim sampaikan, namun Sarah berkeras. Sebagai wanita ia merasa gagal, ditambah dorongan dari omongan masyarakat sekitar yang terus menghantuin pikirannya. Singkat cerita Ibrahim dan Hajar menikah dan memiliki anak, Ismail. Kelahirannya disambut sukacita. Namun ternyata Sarah tetap merasa hampa. Tentu saja membayangkan Suaminya harus bersama yang lain dalam satu atap. Sarah cemburu sebagai wanita, namun kecintaan nya pada Allah, Ibrahim dan Hajar yang membuatnya lebih bersabar.
Suamimu Bukanlah matahari, jangan pernah membagi cahayanya dengan siapapun. Ia adalah jantungmu sendiri. Kau akan mati jika membagi nya dengan orang lain.. Suamimu adalah jantung yang mengalirkan darahmu. Kau tak pernah bisa membagi  jantungmu dengan orang lain..
Sarah menggantikan tugas hajar dalam membereskan rumah dan mencuci ketika hajar tidak bisa. Dalam persalinanpun Sarah yang mengerjakan semua, membantu hajar dengan sukacita. Hingga tiba pada suatu masa, Sarah menginginkan hajar untuk pergi menjauh dari hadapannya. Sarah meminta Ibrahim membawanya ke tempat yang paling jauh hingga hilang dari pandangannya, kemanapun, ke negeri manapun. Sangat berat bagi Ibrahim. Kini Hajar telah menjadi ibu dari anaknya, mereka sudah tak terpisahkan, di satu sisi, sarah juga merupakan istri pertamanya yang setia , dan senantiasa berjuang bersamanya sejak dulu.
Ya, dengan memohon petunjuk Allah, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail kecil melintasi perjalanan berbulan-bulan agar jaraknya jauh dari Sarah.

Semoga Allah melindungi kalian, bisik Sarah dengan suara yang lirih.


  1. Ismail, Tuhan Mendengar Pintaku
Arti nama Ismail adalah "Tuhan Mendengar". Pada chapter ini kita akan melihat perjuangan Siti Hajar bertahan dalam padang pasir yang panas tanpa sisa perbekalan lagi. Seperti pada chapter 1, dengan kondisi seperti itu, Siti Hajar tetap menggantungkan dirinya pada keyakinannya akan dibantu Allah. Bahwa harapan bahwa pertolongan Allah akan segera datang lewat manapun.
Ya Allah aku yakin Engkau tidak akan membiarkan kami menderita dan mati di lembah ini. Tapi apa yang harus kulakukan, sedangkan putraku semakin lemah dan kering.

Ilustrasi: Gurun Sahara (http://konnoyuki.blogspot.com/2010_11_01_archive.html)

Perjuangan yang dilakukan Hajar dapat kita lihat hingga kini terabadikan pada salah satu rangkaian ibadah haji, Sa'i, yaitu berlarian kecil antara bukit shafa dan Marwa. Keberaniannya meninggalkan ismail di pasir dan berikhtiar mendaki bukit shafa dan Marwa sebanyak 7 kali hingga kembali lagi ke anaknya merupakan hal yang luar biasa. Ismail yang semakin kehausan sudah tak memiliki air liur bahkan untuk membasahi mulutnya, hingga Hajar harus memeras keringatnya untuk menjadi sumber air bagi Ismail.
Maafkan bundamu Ismail, jika Allah menghendaki kematian kita disini, biarlah. Sia pasti akan mengambil kita ke sisi-Nya, dan melimpahi kita dengan kasih-Nya. Tapi bunda tak kan berputus asa. Tunggulah disini, bunda akan mendaki bukit itu lagi..
Hingga di akhir perjuangannya mencari kafilah dan sumber mata air, dari kaki Ismail terpancar sebuah sumber mata air.
Zami, zami, berkumpullah, berkumpullah..

  1. Makkah, Lembah yang Diberkahi
Peradaban baru segera lahir. Sumur air zamzam itu berada di bawah manajemen Hajar. Kafilah yang singgah diperbolehkan mengambil manfaatnya namun sebagai gantinya menukarkannya dengan hewan ternaknya. Bani Jurhum kemudian memutuskan menetap di sana dan bermasyarakat. Secara otomatis hajar mendapat keluarga baru, komunitas baru, yang menyayanginya dan menyayangi ismail. Kebijaksanaan, keberkahan, dan karakter hajar yang begitu tabah, kuat dan sabar membuatnya menjadi pemimpin. Latar belakangnya sebagai putri dari seorang raja membuatnya lebih mudah dalam mengelola masyarakat.  Pengalamannya bersama ibrahim juga semakin memperkayanya. Pondasi sosial dan ekonomi berhasil terbentuk, semakin hari makkah menjadi pusat aktivitas perdagangan. Dakwah islampun semakin mudah dilakukannya. Dan terjawab sudah alasan Hajar ditempatkan Allah di tempat itu.
Terimakasih ya Allah, Engkau tak Pernah menyalahi janjiMu..

  1. Ujian Terakhir
Hajar kini sangat bahagia, namun tampaknya ujian Allah belum juga usai. Ketika dulu kebahagiaan meliputinya kala bersama keluarga Ibrahim,  hingga harus menerima kepahitan berpisah, hingga berbahagia lagi di Makkah ini, kini ujian kembali menerpa keimanannya.
Dikisahkan ada seorang laki-laki datang ke hadapan Hajar dan memberitahukan bahwa Ibrahim datang untuk menyembelih Putranya. Hajar tidak percaya begitu saja, namun laki-laki itu terus mengatakan hal yang negatif. Hajar lalu melemparinya dengan batu. Dia percaya bahwa apapun yang dilakukan Ibrahim adalah kehendak Allah. Dia hanya sedikit menyesal mengapa tak sempat berlama-lama dengan ismail.
Kemudian Ibrahim datang bersama ismail. Ternyata Ibrahim memang mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih Ibrahim, namun karena keimanan dan keikhlasannya, Malaikat diperintah allah untuk mengganti Ismail menjadi seekor hewan. Ismail tidak takut, dia percaya dan pasrah bahwa kalau itu perintah Allah, maka harus dilaksanakan. Laki-laki yang tadi mendatangi hajar juga mendatangi Ibrahim, itu iblis yang ingin mengganggu. Ibrahim pun melemparinya dengan batu. Hal yang sama dilakukan Ismail juga.
Ya, Ismail tumbuh dibawah naungan kasih sayang Hajar, hingga besar memiliki kecintaan yang besar kepada Allah.
Ibrahim harus kembali ke Palestina, cintaya pada hajar berlandas cintanya yang sangat besar kepada Allah.
Laki-laki itu masih seperti dulu, seperti saat kami pertama bertemu. Hanya warna rambut, warna kulit, dan bentuk tubuh yang berubah. Selain itu, semuanya abadi, seabadi cintaku padanya..

TAMAT
:D
nampaknya bukan untuk dijadikan sumber sejarah, tapi ini buku yang bagus untuk merasakan dan menyelami langsung perjuangan kisah hidup seorang Siti Hajar .
Mohon maaf atas segala kesalahan. Mudah-mudahan bermanfaat atau bisa diambil ibrahnya :)

Ahad, 1 Januari 2012
18:53
kamar


Identitas buku:
Ahimsa, Dedi. 2009. Ibunda Hajar: kisah kekuatan cinta, iman, dan pengorbanan. Jakarta: Penerbit Zaman.

2 comments:

  1. wah, hajah.. jadi pengen pinjem :D
    *sekalian menyelami arti nama juga hehe

    ReplyDelete
  2. hehe, mangga aja kalo mau sar hoho
    iya, selaman arti namanya belum sih sar, hehe, baru prolog :)

    ReplyDelete