Saturday, July 22, 2017

Untukmu yang Sedang Diputus Cinta

Sahabatku, kudengar kau sedang berduka, putus cinta? Memikirkannya membuatmu enggan makan, sulit tidur dan menangis tak henti berhari-hari, begitukah?

Ah, lihat itu matamu yang sembab, dan senyummu yang kau paksakan. Aku tahu begitu berat menjalaninya. Seseorang yang telah lama bersama kita, tiba-tiba meminta hubungan kita diakhiri. Seseorang yang sudah sangat mengenal kita dan kitapun mengenalnya, tiba-tiba merasa hubungan kita sudah tak bisa dilanjutkan lagi.

Belum lagi kalau kaulihat ia sedang senang-senang bersama dengan yang baru. Seolah kau tak pernah ada, dan kenangan bersama pun bagai menghilang ditelan bumi.

Atau penilaiannya yang negatif terhadapmu menjadi alasan dari berakhirnya hubunganmu dengannya, ah benarkah?

* * *

Ayolah, dekatnya kalian selama ini tak menjamin semua perkataannya benar tentangmu.

Setiap orang selalu punya kebaikan maupun kekurangan, tak ada yang seperti malaikat. Itulah kita, manusia. Tempatnya salah dan khilaf, maka wajar sajalah.

People change, you also.

Masalalu kita, masalalu nya, bagian yang tak terpisahkan dari diri. Maklumi, pelajari dan ambil pelajarannya.

Pasangan yang baik adalah yang bersedia menerima diri kita apa adanya, dan mau membersamai proses bertumbuh kita. Kita pun berusaha memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya, toh Allah juga menilai proses, bukan sekedar hasil.

Bersyukurlah Allah beri kita kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya. Bersyukurlah kau disadarkan Allah lebih cepat untuk tahu bahwa saat ini ia bukan yang terbaik untukmu.

Lelaki yang baik untuk wanita yang baik, wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Percaya sajalah janji Allah itu. Yang bisa kita lakukan hanya memperbaiki diri, pantaskan diri kita mendapat jodoh terbaik. Untuk siapa? Bukan untuk siapapun, tapi hanya untuk Allah. Allah suka kalau kita kuat, berdaya, berprinsip kokoh. Allah suka kalau cinta kita tak pernah terbagi pada makhluk.

Mintalah, mintalah pada Allah agar kita kuat. Minta pada Allah agar cinta kita berada pada tempat yang benar. Mintalah pada Allah agar kita tak menjadikan makhluk sebagai sumber kekuatan. Tiada daya kecuali hanya dari Nya.

Mintalah pada Sang Pemilik Cinta, untuk dipertemukan dengan seseorang yang menempatkan cinta pertamanya pada Allah semata. Yang mencintaimu karena Allah. Seseorang yang mau bertumbuh bersama denganmu karena Allah. Karena kalau ia belum cinta padamu, ia akan berakhlak baik padamu.

Duhai sahabatku, apakah kau sudah lebih baik saat ini?

* * *

Sekarang ambil potongan buah itu, pakaikan ke wajahmu malam ini. Kau harus tidur nyenyak dan segar besok pagi.

Lakukan kegiatan seru yang belum pernah kau lakukan. Atau tetap percaya dirilah melakukan apa-apa yang memang benar menurutmu. Tak perlu takut dinilai buruk selama kau memang dalam koridor yang baik.

Makanlah makanan kesukaanmu tanpa perlu takut orang lain mengatakanmu gendut atau bilang kau tak cantik lagi. Beli saja biar mudah, kau tak harus jago memasak dulu untuk bisa berbahagia.

Pakailah baju kesukaanmu yang membuatmu begitu percaya diri, atau sesekali pakailah  model baju lain atau warna cerah untuk penampilanmu esok hari.

Berikan hadiah kecil untuk kawan atau office boy di kantormu, lihatlah betapa bahagianya ia. Betapa kau adalah manusia baik yang Allah percayakan untuk membantu sesama.

Eh, apalagi ya?
Apa dengan ini kau jadi merasa lebih baik?

Semoga saja iya. Terimakasih telah berbagi pengalaman. Aku senang kau akan bertambah kuat setelah ini.

What doesn't kill you makes you stronger. :)

Sabtu, 22 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Sahabatmu :)

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day17

Friday, July 21, 2017

Teriakan Dari Rumah Sebelah

Tangisan bocah itu memecah keheningan malam. Dua lapis dinding tak mampu meredam kerasnya suara tangisan itu.

"Jempeee! Jempe atuh!"
(Diam! Diam dong! -dalam bahasa sunda)

Alih-alih berhenti, tangisannya semakin menjadi. Penasaran, aku bergegas menuju balkon, mencoba mendengar lebih jauh apa yang jadi akar permasalahannya kali ini. Bukan sekali dua kali kudengar suara bentakan dan tangisan dari rumah itu.

Sampai akhir tak terjawab pula pertanyaanku. Ah, miris sekali. Hal apa yang membuat bocah kecil itu harus menerima bentakan keras dari ibunya. Entah berapa banyak sel-sel otak yang tak tumbuh baik karenanya, entah sedalam apa luka di hati anaknya. Kasihan sekali, ibu macam apa yang seperti itu, pikirku saat itu.

Saat aku kembali ke dalam rumah kembali kulihat wajah polos anakku sedang tidur begitu lelapnya. Anugerah tuhan yang sering membuatku tersenyum, bahkan tertawa terpingkal pingkal dengan tingkah polahnya. Kemudian aku jadi teringat, saat diri ini tak cukup kuat, tak jarang pula aku marah dan bernada tinggi padanya. Astaghfirullah.

* * *

Aku tahu tak mudah menjadi seorang ibu, sementara kebanyakan orang berharap seorang ibu itu tanpa cacat. Semoga Allah mengampuni, memberikan kelembutan hati, kesabaran, kasih sayang serta kekuatan melawan syaithan dan hawa nafsu pada diri kita.

Rasa marah itu wajar, memang Allah ciptakan sebagai konsekuensi dari tabi'at makhluk yang ditujukan untuk membela diri, agama, kehormatan, harta, membela hak-hak yang umum dan menolong orang yang dizhalimi. Maka semoga amarah kita tersalur pada hal yang benar-benar pada tempatnya.

* * *

“I feel that people are basically trying to do their best in the world. Even when you see people making mistakes, you understand why they’re making a mistake. Everybody has flaws, everybody has demons, everybody has ghosts,  but I think you watch people and you see everybody trying to do their best.”
-- Jason Katims

Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya”
-- HR Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

Jumat, 21 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Seorang Ibu yang masih harus banyak belajar.

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day16 #fiksi

Friday, July 14, 2017

Unforgettable Things About KRIMA

KRIMA adalah Keluarga Remaja Islam Masjid Al-Muhajirin. Sebuah perkumpulan remaja di sekitar Jl. Pluto Utara no 24 Margahayu Raya Bandung.

Saya gabung di KRIMA waktu kelas 1 SMA. Hati sudah merasa terpanggil saat halo-halo mesjid berbunyi dan ngumumin ada acara remaja di masjid. Ngajak adik sendiri ngga langsung mau, saya ngga peduli, dateng aja sendiri.

Beres acara diajak ngobrol, langsung jatuh hati. Besoknya udah ikut kumpul-kumpul di rumah salah satu gegeduknya (avq).

HAL YANG NGGA BISA BANGET DILUPAIN
1. Kumpul krima jumat sabtu itu sakral banget. Selalu dinanti-nanti. Biar dempet-dempetan di sekre kayu krima, tapi justru semua kerasa hangat dan deket. Banyak main, games-games jadul yang legendaris (black magic, dkk), dan materi yang seru.

2. Main bulutangkis di Gor Sakti
Ga cukup cuma kumpul jumat sabtu, minggu pagi pun dijabanin. Saling samper (saling nunggu yang ngaret haha), jalan bareng olahraga ke gor. Nyewa gor, tapi suka pake shuttlecock bekas bapak-bapak di sana haha. Pulangnya nongkrong lagi di warung sambil rumpi berbobot. Kadang masih ngga cukup, ngeliwet di rumah salah satu dari kita.

3. Ramadhan jadi super sibuk.
Sibuk sanlat, sibuk juga kejar-kejaran amalan ramadhannya. Subuh shalat di masjid, lanjut kejar-kejaran tilawah, lanjut main monopoli, atau ngerjain tugas. Sorenya jadi mentor, lanjut tarawih, lanjut evaluasi. Bang toyyiib jarang di rumah. Hehe. "Tangisan, dan tawa serta riang canda" udah terkuras bareng krima hihi.

4. Rihlah dan Kemping
Pernah rihlah isinya beneran cuma jalan 4 jam dari bawah ke puncak. Haha. Cape tapi seru banget. Pernah pas rihlah ilang hp segala pas mau pulang banget, jadi ahlul-jatoh pas lagi hiking. Ah pokoknya kemping asli seru banget! Ini terlalu banyak kenangannya hehe.

5. Karakter orang-orangnya yang ajaib banget

6. Organisasi pertama yang bikin teteh ngalamin banyak hal baru
- otodidak bikin poster dan baligo sampe sekarang tetep suka
- niat jualan lontong, bikin bareng walaupun bentuknya ajaib
- belajar bikin risoles diajarin mamanya teh intan
- pawai obor
- ikutan ngedubbing suara pas bikin kabaret sanlat
- jadi bintang pelem pas bikin filem krima
- dll

KENAPA MILIH KRIMA DAN BETAH DI KRIMA
1. Ngerasa deket banget sama temen-temennya.
Udah kayak ke kaka adek sodara sendiri. Udah tau sifat-sifatnya, saling percaya, saling ngedukung, saling kritik, saling bully dan melindungi, saling pundung dan baikan lagi, saling ngerepotin dan direpotin. Ngga cuma ketemu buat asik seru-seruan aja, tapi ada misi bareng, kerja bareng. Ngga ada dinding pembatas antar kita, bebas-sebebasnya dalam koridor yang bener.

Walaupun sekarang udah jarang ketemu anak-anaknya, jujur, kalau reunian sama krima itu ngga pernah ada rasa canggung, ato kehabisan topik. Beda sama kalau ketemu sobat SD, SMP misalnya. Sama krima tuh udah sejiwa gitu kayanya hehe.

Adik adiknya juga soswit banget, jujur saya banyak belajar tentang persahabatan dari mereka. Care na moal aya.

2. Ada misi pribadi yang sejalan sama misi krima.
Masa alay di SMP waktu itu sudah dilalui. Masa SMA, ceritanya lumayan mau tobat hehe. Sejak awal di krima memang ingin berkontribusi lebih, bukan sekedar ikut-ikutan aja. Mau bercapek-capek-ria mikirin kondisi krima, mau ikut terlibat lebih buat ngonsepin krima. Saya juga senang sama yang sifatnya pembinaan dan pengembangan manusia, jadi cocok.

Ya, saya belajar banyak dari KRIMA. Khususnya gegeduk dan gegedik nya. Jadi terstimulus buat belajar islam (khususnya) lebih banyak lagi, mendalami lagi.

3. Awal mula belajar islam, kenal Allah disini.
Dan ternyata islam itu menyeluruh, jadi belajar macem2 juga.
Salah satu yang bikin belajar itu efektif adalah suasana belajar. Di krima ngga kaku, justru ngelatih saya untuk aktif eksplorasi, ngga takut dan ngga malu buat cari ilmu.

Sekian beberapa hal dari KRIMA yang begitu berkesan buat saya. Rumah kedua, istilahnya :"))

Jumat, 14 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa R

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid7 #day9

Wednesday, July 12, 2017

Kata Ajaib : Mengajarkan Balita Sopan Santun

"Bunda, tooo.. long..",
"Kaciiiih.."
"Maaa..aap"
Itulah kata-kata yang diucapkan anakku, haidar (22m).

Saya selalu jadi bertambah gemas pada haidar, saat dia menirukan saya mengatakan kata-kata itu. Hehe

Saya mempercayai manfaat mengatakan 3 kalimat ajaib itu (terimakasih, tolong dan maaf), maka saya pun berusaha membiasakannya pada anak saya yang masih berusia dini.

Kata-kata itu nampak sangat sepele, namun akan sangat kita rasakan keajaibannya. Disaat seseorang mengucapkan kata-kata itu pada kita, biasanya otomatis pembicaraan akan berjalan baik, sedangkan di waktu lainnya, bila seseorang tak mengucapkan sepotong kata itu pada kita, mungkin darah kita bisa naik seketika.

Kata-kata ajaib itu terlihat sepele, tapi kalau dipraktekkan insyaallah membuat anak-anak kita lebih sopan. Ada konsep yang tidak sederhana dari kata-kata itu.

Layaknya sebuah spons, otak bayi menyerap semua hal dari sekitarnya. Maka pada usia tertentu mungkin ia masih sekedar meniru tanpa memahami betul maknanya, dan ketika beranjak lebih besar ia akan memahami maknanya.

TERIMAKASIH
Bersyukur pada manusia, salah satu tanda bersyukur pada Allah.
Sependek pengalaman saya, diantara tiga kata itu, kata "terimakasih"lah yang paling mudah diajarkan. Ketika sang anak diberi sesuatu dari oranglain, sang anak diminta berucap terimakasih pada sang pemberi, sembari mengucap syukur "alhamdulillah" kepada Allah. Dalam perjalanannya, ada masa-masa dimana anak lupa, atau menolak mengucap kata itu, wajar. Namun sebagai orangtua, kita harus memegang betul prinsipnya, serta tak patah arang untuk selalu mengingatkan dan menuntunnya.

TOLONG
Ada perbedaan ketika kita menyuruh seseorang melakukan apa yang kita minta dengan cara yang baik, dan dengan cara yang kurang baik. Dengan menggunakan kata tolong, orang yang kita minta bantuannya akan merasa lebih dihargai. Menurut saya ini berlaku pada semua kalangan. Entah dari yang secara kedudukan lebih tinggi atau lebih tua, sesama, maupun sebaliknya.

Sebuah pengingat bagi saya pribadi. Saya akan selalu menggunakan kata ini sekalipun saya sedang menyuruh anak saya nantinya. Karena kalau saya tidak menggunakan kata "tolong" ini nantinya, buat apa saya mengajarkan anak saya sejak bayi?

Dalam penerapannya, haidar masih harus diingatkan untuk mengucapkan kata "tolong" ini, tentu saja. Namanya anak kecil, belum mengerti hak dan kewajiban setiap orang, jadi masih semaunya, wajar.

MAAF
Dalam hidup, kita mungkin menyakiti orang lain. Sadar bahwa kita punya potensi menyakiti orang lain, akan membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan berkata-kata. Anak harus paham bahwa ketika kita menyakiti orang (sengaja maupun tidak), kita harus memperbaikinya. Dengan kata "maaf", hati akan saling terbuka.

Saya membiasakan untuk meminta maaf duluan pada haidar dengan mengatakannya. Namanya ibu-ibu, diusahakan menjaga lisan pun terkadang masih ada saja intonasi atau kata-kata yang menyakiti anak. Pun ketika anak yang memang salah, tempatkan bahwa mereka masih kecil dan belum memahami.

Biasanya setelah saya meminta maaf duluan, haidar saya bimbing untuk mengucapkan maaf pada saya. Awalnya agak sulit, tapi lama kelamaan bisa. Tanpa orangtuanya yang meminta maaf duluan, akan sulit anak belajar meminta maaf dengan tulus.

Akhir kata, anak adalah peniru yang baik. Maka model yang ditiru ya orangtua dan orang-orang sekitar. Mari biasakan mencontohkan hal-hal yang baik ya. Bismillah, semangat!

* * *

"Please" makes grown-ups much more willing to help your toddler or to give her something she wants.

"Thank you" pleases grown-ups by letting them know that your toddler likes what they have given her or done for her—and makes them even more willing to do more favors in the future.

"Excuse me" or "Pardon me" allows your child to get the attention of an adult who is having a conversation or is otherwise absorbed in something other than the child herself; also has the power to move adults who are blocking your toddler's way or to win forgiveness from someone she bumps into.

"I'm sorry" perhaps the most magical of all, because it actually helps to fix hurts, whether your child has injured someone by accident or on purpose.

(https://www.familyeducation.com/life/manners/magic-words-teaching-your-toddler-manners)

* * *

Rabu, 12 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa R

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day7

Berislam : Jangan Hanya Memilih Yang Disukai Saja

Zaman ini, banyak kita temukan orang-orang yang dikalahkan hawa nafsunya. Kalau aturannya selaras dengan hawa nafsunya, ia akan mengambilnya. Sedangkan kalau aturannya berlawanan dengan hawa nafsunya (tidak ia sukai), ia akan meninggalkannya.

Sebut saja khilafah, jihad, poligami atau mencuri potong tangan, familiar dengan kata-kata semacam itu?
Apa yang terlintas pertama kali di benakmu saat mendengar kata-kata itu?
Kuharap kita mau lebih berusaha memahami semua itu dengan belajar pada orang yang tepat, pada sumber yang tepat.



Mau tidak mau, ketika secara sadar kita telah berislam, berarti kita menerima seluruh ketentuannya.

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia merupakan musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Kita boleh tidak suka dengan hukumnya, namun jangan membuat kita berbuat tidak adil dengan menolaknya.  Ambil contoh sederhana, meskipun saya merasa tidak siap dipoligami, bukan berarti saya menolak hukum yang sudah Allah tentukan. Saya yakin dengan sistem yang sudah Allah tentukan, meskipun pemahaman saya yang dangkal terkadang belum sampai untuk membuat saya memahaminya.

Kita perlu lebih dewasa berpikir, bahwa keseluruhan aturan itu ada untuk dijalankan, bukan diambil semau kita saja.

Maka, semoga kita bisa berislam secara utuh. Tidak berlebihan dengan menafikan segala unsur kemanusiaan, namun juga tidak berkekurangan dengan merasa diri sudah cukup baik.

Rabu, 12 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa

In frame : terinspirasi dari kue kering yang dipreteli haidar bagian tengahnya saja. Kuenya ngga dia suka jadi ngga dimakan. Hehe. Kalau bocah ngelakuin kaya gini kan wajar ya. Hehe

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day6

Tuesday, July 11, 2017

Menunda Menikah, Ingin Membahagiakan Orangtua Dulu?

Masalah jodoh atau pernikahan selalu menjadi topik yang menarik diperbincangkan di setiap ruang dan waktu. Tak jarang pula menjadi sebuah candaan ringan bagi para single-single untuk saling mengakrabkan diri. Berbagai fenomena pernikahan yang ramai di media sosial masa kini juga sedikit-banyak membuat para "jomblo" menjadi baper, kegerahan, dan panas (memangnya kompor..)

Di samping itu, ada pula yang tetap adem ayem saja, santai. Mengikuti alur kehidupan, meyakini ketentuan Allah dalam takdirnya, mungkin sembari tetap berikhtiar melakukan pencarian. Ada pula yang memiliki targetan khusus, semacam prasyarat kualifikasi diri yang harus terpenuhi sebelum menjejakkan langkah ke jenjang pernikahan.

Ada banyak prasyarat yang orang tentukan, umumnya seperti : ingin berkarir dulu, mapan dulu, lanjut kuliah dulu, backpackeran dulu, ingin menghafal quran dulu, atau ingin bahagiain ortu dulu.

Menurut saya, semua prasyarat itu tidak ada yang salah, sama seperti yang menikah cepat/muda. Semuanya relatif, bergantung kondisi masing-masing. Toh yang menjalani ya diri masing-masing, pertanggungjawabannya masing-masing, takdir Allah nya juga masing-masing.

Saya bukan termasuk orang yang mendorong orang-orang untuk menikah muda, meskipun pada jamannya saya pun menikah muda. Prasyarat pribadi saya waktu itu hanya 1, pernah merasakan bekerja. Walhasil setelah resign dan ada yang melamar, ketika calonnya masuk kriteria saya, maka menikahlah. Hehe. Dipikir-pikir polos banget ya saya waktu itu.

Yang saya lakukan, menurut saya juga tidak salah, namanya juga jodoh. Namun dari pemikiran di atas, saya jadi merenung, dan berupaya memiliki pemikiran yang lebih matang.

Pernah dengar tentang orang yang menunda menikah karena mau bahagiain ortunya dulu?

Terlepas dari seberapa besar upaya yang dia lakukan, atau seberapa berhasilnya dia membahagiakan orangtuanya, saya sangat apresiasi pada orang yang bilang "mau bahagiain orangtua dulu" :)

Kadar bahagia mungkin tak punya parameter khusus yang eksak. Tapi kesungguhan untuk senantiasa berbuat baik pada ortu, dan kesadaran akan kewajiban anak pada orangtua, insyaallah akan membuat hidup menjadi berkah. Banyak anak yang belum sadar tentang tanggungjawabnya terhadap orangtuanya, ia bingung harus berbuat apa pada orangtuanya.

REMINDER BUAT PEREMPUAN
Bagi kaum perempuan, ketahuilah, pahami baik-baik.
Setelah menikah, otomatis perhatian kita porsinya akan lebih banyak ke suami dan anak. Surga kita "berpindah", ditentukan dari ketaatan kita pada suami. Pasti ada keterbatasan yang muncul setelah menikah. Bisa jadi jauh secara fisik, materi, juga terbatas dalam perhatian. Bukan berarti tidak bisa, tapi pasti ada perbedaan.

Bagi yang bekerja, masih bisa membantu secara materi. Bagi yang hanya mengandalkan gaji suami, perlu pengaturan ekstra.

Bagi yang tinggal serumah, mungkin masih bisa bantu-bantu tenaga, bisa berinteraksi. Bagi yang pisah rumah, mungkin hanya bisa sesekali datang dan membantu, dan mengoptimalkan waktu temu yang sebentar itu.

Saya termasuk yg baru "sadar" nya paska nikah (tepatnya sesaat sebelum nikah, jadi mepet), jadi sekarang saat udah punya keluarga baru, lagi berusaha mencari segala cara buat tetap berbakti sama ortu :)

REMINDER BUAT LAKI-LAKI
Kalian harus tahu betul apa keinginan orangtua kalian. Pengetahuan ini tak bisa sekedar sekali bertanya, tapi berproses. Proses pendekatan pra menikah ini seharusnya so sweet, karena biasanya di usia ini sebagai anak kalian sudah punya kesadaran diri. Sikap dan kata-kata sebaiknya sudah dipastikan baik pada orangtua.

Berbeda dengan perempuan, laki-laki tidak bisa berlepas diri dari ibu bapaknya sekalipun sudah menikah. Jadi, episode bahagiain ortunya memang ga pernah habis. Mungkin kalau mau buat target, targetannya perlu dibagi jadi dua fase (fase pra nikah dan pasca nikah)

Kata mapan, bukan melulu materialistis. Ketika sudah mapan, terbiasa membantu orangtua secara materi, lebih dewasa dalam berinteraksi, dan memiliki lingkaran rekanan kerja yang positif, insyaallah dampaknya juga positif saat sudah berkeluarga nantinya.

Kita semua tahu, orangtua akan bahagia kalau anaknya menikah. Hanya saja, proses menuju pernikahannya juga harus menyamankan, sebagai anak juga harus tahu keinginan terdalam orangtua, dan pada waktu yang tepat.

Pastikan saja orangtua melepas pernikahan kita dengan hati ikhlas supaya doa doanya juga mengalir terus :)

* * *
Sekian ulasan dari saya yang faqir ilmu ini. Sekedar mengambil hikmah dari kehidupan yang saya jalani. Bukan sok menasehati, hanya sekedar sudah lebih dulu saja menjalani. Semoga bisa diambil manfaat nya ya :)

Menurut kamu gimana? Share pengalamannya ya

Selasa, 11 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid7 #day5

Monday, July 10, 2017

Tumbuh Kembang Haidar Usia 22 Bulan

Bismillah, kali ini saya mau mengabadikan momen tumbuh kembangnya haidar yang udah berusia 22 bulan. Sesuatu yang penting dilakukan buat para ibu-ibu agar masa masa kecil anaknya ngga terlupakan atau menguap begitu saja. Terlebih lagi buat saya pribadi yang orangnya pelupa, menulis membuat saya bisa mendokumentasikannya :)

Alhamdulillah, banyak hal menakjubkan yang saya amati dari haidar. Di usia 20 bulan, perkembangan bahasanya saya perhatikan pesat sekali. Perkembangan motorik halusnya juga terlihat dari caranya memegang alat tulis. Perkembangan motorik kasarnya bisa dibilang bagus, kalau ngga dibilang hyper hehe. Secara sosial-emosional dan kognitif juga terlihat baik.

Aspek Motorik Kasar
Hal ini menurut saya paling mudah di stimulasi. Ajak berjalan-jalan, lari berkejar kejaran, bermain bola, atau memanjat misalnya. Haidar udah bisa melompat di tempat, berjalan mundur beberapa langkah, juga bisa mendorong dan menrik benda yang tidak terlalu berat. Saya biasa mengajak haidar melompat kodok atau kangguru, membiarkannya memanjat badan saya saat saya berdiri, berlarian di rumah dan di luar, bermain bola sepak di rumah. Haidar juga selalu tertarik mendorong kursi anak dan koper besar.

Aspek Motorik Halus
Stimulasi motorik halus lebih banyak saya biarkan haidar,mengeksplor banyak hal di alam. Daun, bunga, batu, dll. Saya kurang rajin menstimulasi dengan permainan khusus. Paling hanya seperti pompom, pasir kinetik buatan, playdough, puzzle, dll. Tapi haidar saat menulis sudah memegang alat tulisnya dengan baik walau belum sempurna. Saya juga tidak banyak intervensi, membiarkan saja perkembangannya alamiah.

Aspek Sosial Emosional
Haidar sudah bisa mengekspresikan berbagai reaksi emosi,  seperti senang, takut, marah. Bisa mengenali kalau bundanya menangis itu sedih hehe. Bisa bermain bersama teman dengan mainan yang sama, namun perlu dampingan. Karena kalau dibiarkan, biasanya berebutan hehe.saat bermain peran, mulai menghayati, namun masih bereskpresi datar saat bermain dokter2an sebagai pasien.

Aspek Kognitif
Haidar sudah memahami gambar wajah orang. Kalau lihat foto keluarga bisa menyebutkan semuanya. Haidar Sudah bisa berhitung dari satu sampai sebelas, walaupun belum paham maknanya. Mengenai konsep kepemilikan, haidar cukup paham mengenai barang milik haidar, ayah, bunda. Namun terkadang kalau ada barang milik yang lain, masih mengakui itu milik haidar hehe. Haidar juga suka mengikuti saat bernyanyi huruf hijaiyah dan huruf latin.

Aspek Bahasa
Aspek bahasa ini yang menurut pengamatan saya berkembang pesat pada haidar. Menurut parameter perkembangan, haidar sudah senang melihat gambar dalam buku, bisa menggunakan kata-kata untuk menyatakan keinginannya, dan mampu memahami perkataan orang lain dan menjawab pertanyaan. Haidar juga sangat mudah mengulang apa yang dikatakan orang lain maka harus lebih berhati-hati dalam berbicara. Sampai saat ini paling suka bilang "nggamau" hehe.

Kalau bangun tidur siang (sat saya juga tertidur hihi) kadang dia bangun duluan dan membangunkan saya mengajak makan. "bunda, makan yuk!", atau "makan telor, endog".

PERTUMBUHAN FISIKNYA
Berat badannya sekitar 11.6 kg, dan tinggi 86cm, masih dalam garis hijau sesuai chart dari WHO.
Giginya mulai bertambah 3 buah, di atas 2 (geraham) dan 1 di bawah.

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day4

Saturday, July 8, 2017

Apakah Rohis Harus Diawasi?

Bismillahirrahmanirrahim.

Timeline facebook saya sedang ramai dengan berbagai berita yang viral. Salah satunya tentang Kemenag DIY (Kementrian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta) yang meminta sekolah untuk mengawasi kegiatan-kegiatan rohis. Menurutnya, itu perlu dilakukan agar kegiatan rohis tidak dimanfaatkan oknum yang tak bertanggung jawab, yang bisa menyebarkan paham-paham radikal.

Berita selengkapnya bisa dibaca disini, menurut saya pemaparan latarbelakangnya cukup jelas dan masuk akal. Apalagi menurut berita tersebut, sudah ada satu kejadian nyata, dimana beberapa anak sudah "dibaiat" oleh kelompok tertentu.

Menyusul informasi itu, menurut berita ini, Menag Lukman Hakim Saiffudin juga sepakat dan menghimbau kepada para pihak sekolah untuk lebih memperhatikan masalah ini.

Lalu, apa masalahnya?
Bukan dunia kalau tak pernah ada pro kontra. Ada yang menanggapi berita tersebut dengan menganggap Kemenag DIY terlalu berlebihan, ada pula yang mendukung. Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. Din Syamsuddin justru mengatakan hal hal positif yang muncul dari adanya kegiatan-kegiatan rohis.

Menurut Opini Saya
Sejauh ini menurut saya, apa yang Menag sampaikan terkait pengawasan terhadap rohis itu hal yang wajar. Semacam bentuk perhatian orangtua terhadap anaknya. Pihak sekolah dan guru terkait memang perlu mengikhlaskan diri untuk lebih memantau aktivitas anak didiknya.

Hanya saja, jangan sampai bentuk perhatian dan kasih sayang itu membuat ruang gerak rohis di sekolah-sekolah jadi terbatas. Ibarat nila setitik rusak susu sebelanga, jangan sampai satu kejadian saja jadi membuat kita menggeneralisir semua.

Sebelum bergerak lebih jauh, kita juga harus menyepakati definisi radikal. Ketika seseorang teguh dalam memahami agamanya, itu bukan radikal kan?

Kita belum lupa dengan stigma negatif yang pernah diberikan kepada rohis, kan?  Entah rohis teroris atau rohis sesat, kini bertambah lagi rohis radikal. Stigma yang tak perlu, tapi membuat banyak anak rohis jadi merasa insecure karena para orangtuapun paranoid dengan stigma yang salah itu. Pengalaman yang sama ketika orangtua saya juga sempat begitu. Saya cuma geleng-geleng karena justru saat bergaul di lingkungan rohis, saya jadi punya filter berpikir yang lebih baik dari sebelumnya.

Memang tidak disangkal pula bahwa sekarang pun banyak kelompok-kelompok yang berupaya menguasai rohis-rohis di sekolah. Mungkin maksudnya baik, tapi justru mengganggu ketentraman. Pemikiran-pemikiran kurang baik pun juga bisa disusupi pada berbagai ekstrakurikuler lainnya kan?

Ya, inilah saatnya setiap ekstrakurikuler disekolah mendapat perhatian lebih :)

Saya rasa, kalau dalam setiap kegiatan rihlah (jalan-jalan ke alam), pelatihan kepemimpinan, majelis ilmu, olahraga, dan keputrian rohis selalu ada guru yang mendampingi, pasti anak-anak juga senang :) Saya hanya kasian sama bapak ibu guru kalau harus selalu ikut kegiatan rohis yang seabreg hehe.

Sama seperti ekstrakurikuler resmi sekolah lainnya, rohis punya relung tersendiri untuk membentuk karakter para siswa yang tak bisa didapat di dalam ruang kelas.

Jadi,
Apakah rohis harus diawasi?
Ya, Tentu saja!

Sabtu, 8 juli 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Yang punya temen adik adik rohis

#30dwc #30dwcjilid7 #day3

Thursday, July 6, 2017

Ketika Bertemu Ia Yang Kehabisan Ongkos Pulang

Ilustrasi. Gambar asli dari : http://farm5.staticflickr.com/4058/5124590031_0e576aa48f_z.jpg

Kerudung hitam lusuhnya nyengsol. Sedikit bertabrak warna dengan baju atasan dan rok tigaperempatnya. Tangan kanannya mendekap erat tas jinjingnya yang juga hitam, entah bermotif apa.

Ia memanggil perlahan, aku terhenti.
"Neng," raut wajahnya terlihat malu-malu.
"Ibu ngga punya uang buat ongkos pulang, neng bisa bantu?", lanjutnya.

Aku menatap matanya penuh selidik. Bukan, bukan prasangka yang kukedepankan. Sekedar pasang kuda-kuda agar lebih mawas diri. Aku yang mudah terpedaya ini, judulnya sedang menguatkan pikiran sehat daripada perasaan.

Kutarik nafas perlahan, menanyakan segala informasi yang perlu kutahu untuk membantunya.

Aku heran, bagaimana ia memilih pergi keluar, tanpa menyiapkan ongkos pulang pergi. Katanya, ia mau kembali ke Rancaekek. Habis dari rumah saudara untuk pinjam uang, tapi yang dicari sedang ke luar kota. Kini uangnya hanya bersisa lima ribu rupiah, untuk sampai ke Rancaekek. Di depan Kantor BPJS Jl. Pelajar pejuang tempat kami bertemu ini, ia hanya punya dua opsi, mencari bantuan dari orang sekitar, atau berjalan kaki sampai tempat bus di Jalan Soekarno Hatta.

Aku berpikir keras. Dulu aku pernah mengalami ini. Ngga ngasih, kasian, kopet pisan ngga mau bantuin. Mau ngasih takut ini itu. Akhirnya tanpa ba-bi-bu kuberikan selembaran uang yang kupunya. Tapi setelah itu aku tak tahu pasti apakah orang yang meminta bantuan itu benar-benar membutuhkan atau sekedar mencari belaskasihan. Maka, langsung memberikannya uang, bisa jadi bukan opsi bantuan yang tepat.

Kini kupikirkan beberapa opsi bantuan. (1) Menunggu suami datang dan memintanya mengantar ibu ini ke tempat naik bus, (2) merekomendasikannya mendatangi lembaga amal (entah kenapa yang terpikir waktu itu Rumah Amal Salman, padahal jauh).

Tak lama, muncullah sebuah ide dalam kepalaku. Kupanggilkan saja ojek online untuk mengantarkan ibu ini ke tempat perhentian bus. Mudah saja, kalau memang ibu itu jujur, ia tidak akan keberatan. Tapi kalau segera menolak dan pergi bisa jadi hal lain.

Awalnya ia menolak, "Ngga usah neng, repot-repot. Kalau ada mah minta lima ribu aja buat ongkosnya."
"Ngga apa-apa bu, justru gampang ngga repot, lebih cepet juga naik motor. Pakai ojek online" Kataku.
"Itu punya eneng? Harus punya helem atuh ya?", tanyanya polos
"Bukan bu, saya cuma pesan. Helemnya udah ada dari ojeknya." Jelasku.
"Jadi ibu nunggu aja disini, ini teh?"
"Iya bu, agak geser aja yuk kesana, biar gampang dicari mang ojeknya."

Sambil menunggu, kami berbincang. Aku tahu bahwa beliau asli Tasik, Rajapolah katanya. Kubilang kemarin aku mudik ke tasik, ditawari mampir ke rumahnya. Tapi aku lupa tepatnya, rajapolah 179, katanya? Aku lupa, entah.

Tak lama ojek pesanan kami datang. Sang ibu pun terbang bersama angin, eh, tukang ojek.

* * *

Hikmah dari pengalaman yang kudapat: Tetap tenang, berpikiran jernih, dan tetap waspada. Tak bisa kita pungkiri masih banyak orang-orang yang mencari uang dengan cara yang tidak baik, namun tentu saja harus bisa kita bedakan dengan yang memang membutuhkan bantuan.

Ketika memberikan uang tunai beresiko, kita bisa meminta bantuan pihak ketiga (dalam hal ini ojek online) untuk tetap membantunya. Terimakasih ya, apps nya sangat membantu :)

Kalau memang ada uang lebih ya, silakan saja bantu. Perkara mendidik, atau tidak mendidik pasti ada konsekuensinya. Kalau sedang kejadian, kadang hati saja yang bisa menilai. Semoga Allah karuniakan hati dan pikiran yang dapat merespon segalanya dengan benar. Insyaallah ada hitungannya masing-masing, kan ya?

Kamis, 6 Juli 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day1

Saturday, July 1, 2017

Pengaruh Ghibah dalam Keluarga & Kaitannya dengan Menonton TV Bersama

Tengah malam ini, sesuatu yang seru mengantarkan saya untuk membuka lemari dan mencari buku yang terkait.

Membaca habis yang sedang dicari, namun berujung kekecewaan karena bahasannya memang tidak banyak. Lompatlah jemari saya membuka-buka halaman lainnya, secara acak.

Kado Pernikahan Untuk Istriku, begitu judulnya. Buku yang baru saya sadari siapa penulisnya, tepat diwaktu yang sama saat saya menuliskan review ini. Ya, saat mencari buku tadi, saya hanya mencari judul yang kira-kira akan sesuai dengan yang saya butuhkan. Ternyata penulisnya Ustadz Fauzil Adhim hehe.

Halaman demi halaman saya lompati, mencari yang menarik dan memang diperlukan. Sampai suatu ketika, saya menemukan bahasan mengenai ghibah, sesuatu yang bagi saya rasanya cukup aneh ada di buku pernikahan semacam ini.

"Banyak diantara kita yang merasa tidak menggunjing ketika mereka membicarakan orang lain, meskipun telah jelas-jelas menggunjing."

Itulah kutipan yang membuat saya terpaku pada topik itu di malam ini. Pasalnya, sepekan terakhir ada beberapa kejadian yang saya alami terkait topik itu.

Saya pribadi bukan manusia tanpa cacat yang tak pernah ikutan "gatel" membicarakan keburukan oranglain (astaghfirullah). Saya hanya bisa menahan diri untuk berusaha tidak membicarakan keburukan orang lain. Bukan apa-apa, saya tahu diri kalau saya cukup mudah terpengaruh dengan penilaian orang lain. Ketika seseorang bilang si X begini begitu, bisa jadi alam bawah sadar saya merekamnya, mengubah sikap saya jadi ikut-ikut tidak baik pada si X. Padahal saya belum pernah mengalami apa yang seseorang itu lakukan pada saya. Prinsip saya, selama dia baik sama saya yaudah saya ngga usah pikir macam2. Kalau ada yang punya pengalaman buruk dengan orang itu, saya cukup tahu aja, ngga usah khatam dengerinnya. Hehe. Tiap orang beda ya penyikapannya.

Makanya kadang saya suka agak kesal sama yang suka ngomong buruk di depan saya, sekali lagi bukan karena saya suci tapi karena saya tahu kelemahan diri saya, bisa terpengaruh.

"Tahukah kalian apakah ghibah (menggunjing) itu?", Tanya nabi. Mereka menjawab, "Allah dan RasulNya lebih mengetahui."

"Ghibah," kata nabi, "adalah membicarakan saudara kalian dengan cara yang tidak akan dia sukai."
Salah seorang sahabat kemudian bertanya, bagaimana jika yang aku katakan mengenai saudaraku itu hal yang sebenarnya?" Rasulullah menjawab, "Jika yang engkau katakan itu benar, maka engkau telah mencemarkan nama baiknya (dengan ghibah), dan jika dia tidak seperti yang engkau katakan, maka engkau telah menuduhnya dengan kebohongan dan dusta (buhtan)."

Ghibah itu ust. Fauzil bahas pada bab ke-18 dengan subjudul Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga. Ust fauzil memberikan beberapa dalil dari Ayat al quran juga dari hadits, serta melengkapinya dengan kisah kisah sahabat. Selain itu, penulis juga mengungkapkan pengalaman pribadinya saat mengalami hal serupa.

Rasa heran yang pertama saya dapat saat menemukan topik ghibah dalam buku ini, perlahan terangkat. Saya mulai menemukan benang merahnya pada sebuah keluarga. Menariknya, saat membicarakan topik ghibah ini, ustadz fauzil menghubungkannya dengan  berbagai fenomena : fenomena menonton TV, manfaat merantau, pengaruhnya pada pendidikan anak.

Ada yang penasaran, apa kaitan semuanya? Yuk kita bahass ^^

1. Menonton TV

Pada saat menonton TV bersama, yang terjadi bukan kontak psikis yang erat dan akrab. Kedekatannya hanya karena berada di tempat kegiatan yang sama, bersifat fisik saja (physical closeness). Seolah dekat, tapi batin saling berjauhan dan tidak saling menyapa. Kesekatan semu (pseudo-attachment), mungkin sama halnya dengan naik kendaraan umum bersama orang lain, sekedar berada di tempat yang sama, tapi tak saling berinteraksi. Lebih lebih sambil memegang gadget masing-masing. Sibuk dengan dunia sendiri. Jaman sekarang, bukankah kita begitu sering seperti itu?

Dampaknya mungkin tak langsung terasa sekarang, tapi di kemudian hari ketika anak-anak "tiba-tiba" menyimpang jauh dari yang biasa kita pantau. Tak ada kedekatan yang hangat.
Lalu apa kaitannya menonton TV dengan bergunjing? Saat bergunjing memang terjadi sebuah komunikasi dua arah (misal antara A dan B), tapi fokus utama masing-masing adalah pada kejelekan orang yang dipergunjingkan (misal si C). A dan B sejatinya juga merasa diri lebih unggul dari C (sadar ataupun tidak). A tidak lebih tahu tentang B, begitupun sebaliknya. Komunikasinya cenderung bersifat permukaan (periferal), tidak memperoleh kebutuhan psikis interpersonalnya.

"Kebiasan semacam itu, terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Masalah-masalah yang datang disikapi secara dangkal saja (karena tidak terbiasa lagi melihat akar masalah), diselesaikan dengan mengandalkan otoritas --terutama jika berkenanaan dengan anak--sehingga masalah tak benar-benar terselesaikan, kecuali permukaannya saja... Dari sinilah kemudian anak merasa tidak memperoleh perhtian yang dibutuhkan, tidak menemukan kesejukan yang diharapkan, dan tidak mendapatkan orangtua yang 'mendengarkan' dia... Budaya bicara dan pemecahan masalah yang lebih banyak menyangkut keburukan orang lain, dan jarang berbicara tentang apa yang dibutuhkan oleh jiwanya sendiri, menjadikannya merasa asing dengan realitas psikis istri atau suaminya."
- Ust. Fauzil Adhim

Sampai sini mulai terbayang ya, kemiripan aktivitas menggunjingkan orang dengan aktivitas menonton TV bersama? Bagi saya itu masuk akal, namun juga tidak meniadakan pengaruh positif yang mungkin ditimbulkan dari menonton TV bersama. Kalau aktivitas menonton TV diinsyafi secara baik sebagai salah satu sarana pembelajaran, yang dipantau dengan benar, insyaallah akan ada manfaat juga. Yang penting sekarang kita sudah lebih tahu tentang makna sebenarnya dari aktivitas itu lebih mendalam, kan ya?

Poin ke-2 dan ke-3 dilanjut pada postingan berikutnya ya :)

Thursday, June 29, 2017

Aliran Rasa (Level 1) Komunikasi Produktif

Assalamu'alaikumwrwb :)

Alhamdulillah tantangan kelas bunda sayang mengenai komunikasi produktif di level 1 ini sudah terlewati.

Pada tantangan level 1 ini, Dari 10 hari yang harus dilalui, saya baru berhasil menyelesaikan 7 hari saja. Jadi saya belum berhasil mendapatkan badge kelulusan di bulan Juni ini.

ALIRAN RASA

#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#BundaSayang
#IIP
#KuliahBunsayIIP
#aliranrasalevel1