Monday, February 19, 2018

Dan Posting di Medsos Untuk Apa?

Di tengah kegiatan saya ngapload dokumentasi Bunda Sayang dari instagram ke album facebook, kemudian saya berhenti sejenak. Berpikir kembali, "kenapa saya harus melakukan ini?"

Sudah saya tulis di instagram lalu kenapa perlu repot di upload lagi ke album facebook?

😅😅

Sebetulnya sekarang saya bukan orang yang senang mengunggah beraneka aktivitas pribadi di sosial media, apalagi facebook. Tapi saya suka sedih sendiri karena banyak hal yang sering saya lupakan kalau saya ngga mendokumentasikannya.

Dari postingan saya juga, harapannya saya tetap bisa memberikan manfaat buat orang lain walau terkendala jarak dan waktu.

Sekali sekali ngga apa ya, sambil jualan, sambil sharing, sambil berbagi informasi kegiatan. :)

Lurusin niat aja ya.

Wednesday, January 24, 2018

Kuli Pofesional - Renungan dari Robohnya Selasar Gedung BEI Jakarta

Siapa sangka, gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta yang megah itu, bisa "memakan" 72 korban luka akibat robohnya selasar lantai 2 nya? (sumber)
TMC POLDA METRO JAYA

Baiklah, walaupun saya sudah lama tak update blog *kerik lumut*, boleh ya sedikit-sedikit mulai menulis lagi. Berusaha tetap uptodate dengan berita yang ada sambil tetap beraktivitas sebagai emak-emak hehe. Sambil nyetrika, saya dengar diskusi tentang kontraktor dari suatu projek pemerintah.

Sebelumnya, harap maklum ya kalau banyak penggunaan istilah yang salah, dan juga kalau susunan kalimatnya agak acakadut. Hanya mau share sedikit tentang sebuah hikmah yang saya coba tangkap dari diskusi para pakar tersebut.

*

Sudah jadi hal yang wajar ketika sebuah proyek besar dilakukan oleh orang yang besar, sebut saja Proyek Nasional Pemerintah, tentu tak sembarangan. Banyak faktor yang pasti terlibat. Kredibilitas perusahaan, arsiteknya, pemilihan materialnya, pekerjanya, waktu pengerjaannya, pemeliharaannya, dan lain-lain.

Salah satu yang di highlight saya, adalah perkataan narasumber saat itu:
"Perusahaan mungkin boleh bonafit, terpercaya. Tapi ketika sesuatu berhubungan dengan manusia sebagai pekerja, sangat mungkin ada human error. Diantara sebegitu banyak SDM (buruh bangunan)  yang diperlukan, kita kan ngga tau kinerja atau perfomancenya di waktu tertentu seperti apa, misalnya."

*
Tentu saja dengan faktor yang banyak, kita tak bisa menggeneralisir. Namun karena pada dasarna saya tertarik dengan faktor manusianya, maka terkait kualitas manusia, ini yang jadi saya pikirkan:

Oh Ternyata,
Kalau Mau Jadi Kuli Sekalipun, Jadilah Kuli Yang Profesional!


Profesi kuli mungkin masih dianggap sebelah mata, kerjanya yang tak selalu tentu ada, dan resiko kematian tinggi juga melekat. Gedung baru yang indahpun selalu disematkan pada sang perancang/arsiteknya. Tak ada yang menyematkannya pada Sang Kuli Bangunan, kan?


Tapi, Hal kecil sekalipun memang harus dilakukan sepenuh hati, oleh seseorang yang punya kualitas baik. Bukankah mengharukan, bila setiap lapis bangunan rumah atau sekolah kita bertabur zikir dari para pekerja bangunan? Yang mengerjakan semuanya dengan penuh tanggungjawab?

Maka dengung parenting seharusnya lebih menjalar ke setiap tetangga rumah-rumah kita. Tetangga yang mungkin sering makan sekadarnya. Yang tak jarang kita pandang sebelah mata karena dianggap tak prioritas. Yang tak jarang kita jauhi karena takut pengaruh buruknya, padahal karena lemahnya kita membentengi diri sendiri.

Orang berkualitas itu ketika ia bisa menularkan kualitas pada sekitarnya. 
Tetap bersinar dan menyalakan lilin di sekelilingnya. 
lilin kecil yang meskipun kecil, begitu berarti menerangi ruang gelap.


Rabu, 24 Januari 2018
Hajah Sofyamarwa


Tuesday, January 23, 2018

Drama Anak Tantrum Mulai Usia 2 Tahunan

Tangisanku terhenti sejenak. Bocah berusia 2 tahun lewat 4 bulan itupun sudah terlelap di pelukanku sehabis menangis hebat.

Sehabis pulang dari pasar tadi kami mampir sejenak ke buyutnya, maksud hati agar anakku mau bermain disana barang sejam dua jam. Sudah sekian lama tak main disana, karena sesuatu.

Untuk mengalihkan perhatiannya, sempat kubelikan jam tangan spinner 25ribuan di pasar tadi, berharap moodnya bagus dan saat ke uyutnya ia akan mau ditinggal.

Ternyata sama seperti saat berangkat tadi, ia melantai, menangis rewel dan tak mau. Minta digendong dan ingin pulang.

Kalau anakku bilang ngga mau, Aku juga tak bisa membiarkan anakku disana. Maka segera kuajak haidar untuk sekedar salam, namun juga tak mau.

Kupikir ia akan mereda, dalam perjalanan pulang yang hanya sekitar 10meter menuju rumah, anakku mulai memukul marah dan menangis lagi. Barangkali mau di uyutnya lagi? Ternyata tidak juga. Kubawa saja pulang, ia mengantuk.

Sampai depan teras, ia tak mau masuk rumah, berdiam dipagar sambil menangis keras. Alhamdulillah aku masih belum baper, masih santai, hanya heran saja.

Tak mau masuk, akupun masuk ke dalam rumah, dan tangisannya semakin kencang. Singkat cerita ia pun mau digendong dan masuk ke dalam rumah

Tak berhenti sampai disitu, tangisnya mulai lagi. Meronta ronta, gerakan tangannya memukul, gerakan kakinya menendang. Ku tahan dan bilang "kalau marah itu boleh, tapi ngga boleh memukul atau nendang, bunda ngga suka." Belum mempan, saya menjauh dan masuk ke dalam kamar, menutup pintu.

Dipersingkat lagi, tangisanku akhirnya pecah. Ingat beberapa hari sebelumnya ini pernah terjadi, dengan kejadian yang persis. Apakah trauma ya sampai kejadian yang hampir sama walau tak ada penyulutnya, menghasilkan kemarahan yang sama. Bisa jadi, karena ia masih kecil dan apa apa yang terjadi saat kecil begitu membekas.

Ketika tangisanku pecah sambil meringkuk di atas kasur, ia kemudian masuk ke pelukanku. Saling meminta maaf, dan tak lama ia tertidur.

Ya Allah..

Selasa, 23 Januari 2018
Seorang bunda yang masih belajar dan berusaha melakukan yang terbaik.

Kutulis untuk jadi pengingat, dan kelak evaluasi. Betapa bunda masih sangat perlu belajar perlu sabar. Saat Haidar 2 tahun 4 bulan. Maafkan bunda ya, semoga kita selalu disayang Allah

Saturday, January 13, 2018

Diam


"Bisa diam gak sih?"
Begitu katanya, seorang ibu muda yang sedang hilang kesabaran menghadapi tangisan anak balitanya.

Tak pernah terbayang sebelumnya, ia akan menjadi selayaknya “monster” yang terpancing balas meneriaki balitanya.

Segala kesempurnaan menjadi ibu yang pernah ia bayangkan sebelum menikah dulu, kandas semua. Ah, ternyata sebegitu susahnya menjadi ibu.

Ia lalu menutup pintu dan masuk ke dalam kamar. Maksud hati menenangkan diri dan menjauh dari kalimat-kalimat emosi lainnya, balitanya menangis semakin menjadi.

Tumpah pula tangisannya. Mencoba mendekap anak semata wayangnya itu, tak lama justru tendangan kuat bocah kecil itu mendarat di badannya.

Hanya tuhan yang tahu betapa menghayatinya ia berucap istighfar saat itu. Hanya tuhan pula yang tahu, seberapa besar kadar emosinya sudah memuncak.

Ahh, tak pernah terbayang ia akan bersikap seperti itu.

Ia rebahkan dirinya di atas kasur, sementara sang anak tetap merengek menangis.

Didekap kembali anaknya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa anaknya hanya sesosok manusia kecil yang masih berkembang.

Ia memulainya dengan minta maaf, tak peduli siapa yang sebenarnya salah duluan. Ia hanya tahu bahwa memang sejatinya ia yang perlu meminta maaf pada buah hatinya, atas sikap dan kata-kata yang terlampau berlebihan.

Tangisan bocah kecil itu kemudian berubah nada. Dari kemarahan menjadi tangisan manja khas anak anak. Perubahan gerak bibir bawahnya makin melembutkan hati sang Ibu.

Ah astaghfirullah.
Ia hanya anak-anak yang harus dihujani kasih sayang.

Jumat, 5 Januari 2017
Hajah Sofyamarwa
A mother who learn

*Kisah ini ditulis saat materi kulwap kepenulisan tentang menulis itu mudah, dalam 7 menit :)

Tuesday, December 19, 2017

Mulai Dari Nol, Ya..


Usia nya sudah 2 tahun 2 bulan, 1 bulan lebih muda dari usia anakku. Asus zenfone ku akhinya mati total, nampaknya ia sudah lelah berkali-kali meronta karena kehabisan space RAM yang penuh setiap saat. Juga mungkin baterai yang soak karena sering mati mendadak karena sering di charge dalam keadaan mati total. Tugasnya memang semakin berat akhir-akhir ini, sementara kapasitasna tidak betambah, selain itu sang empunya juga hanya mengeksploitasinya habis-habisan tanpa benar-benar membenahi dalamnya.

Beberapa  hari sebelumnya, laptop juga berdesing setiap dinyalakan, otomatis tak bisa bekerja. Sebelumnya? Jarang sekali kumatikan. Sekedar sleep atau hibernate, karena pemakainya ini memang mengajaknya terus bekerja. Usia yang sudah cukup tua, ditambah faktor kecemasan pemakai, yang tak bisa tenang kalau pekerjaannya tak kunjung selesai.

Sekarang kepalaku. Aku yang tak biasa minum banyak obat ini mendadak perlu parasetamol setiap saat. Sakit hebat. Rasanya ingin dibentur-benturkan ke dinding untuk mengurangi rasa sakitnya. Ah, kalau handphone dan laptop bisa merasakan, mungkin ini yang selama ini ia rasakan. Maaf yah..

By the way, perbincangan malam ini mungkin menjadi puncak dari segala yang kurasakan selama ini. Banyak hal yang kemudian kusadari, tentang :

Kenapa aku melakukan ini, kenapa aku melakukan itu. 
Apa yang sebenarnya ingin kucapai?
Mau kemana aku?
Kemana diriku yang kukenal?
daaan lainnya..

Singkat kata, aku ingin menegaskan ini sedikit, pada diriku sendiri.
Aku manusia merdeka, yang hanya perlu memenuhi standar yang Allah minta, yang terbaik.
Yang segera kembali pada rute yang benar
Menjadi yang terbaik bukan untuk dinilai makhluk, bukan yang beharap penilaian makhluk.
Yang melakukan sesuatu, bukan karena ga enakan sama seseorang, bukan karena mau diapresiasi orang, tapi karena Allah.
kemana itu niatnya selama ini.

Mulai dai Nol, Ya

Selasa, 19 Desember 2017
23.41
wake me up, when september ends :p

Friday, November 24, 2017

Membandingkan Ukuran Dua Bola -

Tantangan Bunda Sayang 6:  Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - I Love Math Day 1
Jumat, 24 November 2017

Hari ini bunda belum sempat bikin rencana kegiatan selama 10 hari buat haidar. Tapi sesuai bayangan di awal, haidar akan mengikuti konsep dari buku LMA saja.

Konsep pertamanya adalah tentang perbandingan, ukuran besar kecil 2 buah bola. Jujur selama ini haidar memang belum banyak saya sengajakan mempelajari matematika, meski dalam keseharian cukup sering juga dikenalkan konsepnya.

Dari buku, Haidar sudah bisa menjawab, bola mana yang lebih besar. Saat saya tunjuk benda aslinya (peraga) haidar juga bisa menjawab mana bola besar dengan bola kecil.

Lembar selanjutnya, membandingan tangan, ibu dan anak. Saya letakkan tangan di atas gambar tangan ibu, namun haidar belum merespon hihi. Ia menunjuk gambar sosok bapak dan bilang "ini tangannya gede yah". Saya jawab "iya, itu tangan ayahnya lebih gede ya."

Selanjutnya haidar ingin melihat buku 123 teh amel, buku yang niatnya saya pakai untuk jadi alat peraga pembanding. Ternyata haidar ingat, waktu itu pernah baca, dan mungkin tau dulu itu belajar matematika ya hehe. (Ngarang)

2 lembar, akhirnya berhenti. Lalu kami jalan jalan keluar dan bermain bersama anak tetangga.

Sekian
Jumat 24 Nov 2017

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUS

Thursday, November 23, 2017

Menstimulasi Anak Suka Matematika Logis

Tantangan Bunda Sayang 6:  Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - I Love Math Day 0
Kamis, 23 November 2017

Bismillah, alhamdulillah kemarin sempat melihat grup bunsay, menyimak materi, tantangan, dan cemilannya. Syukur juga melihat bahwa tantangan dinulai di hari ini.

Seperti biasa, saya akan memulai postingan pertama ini dengan tulisan saya tentang persiapan dan perasaan saya mengahadapi tantangan kali ini.

Saat berkunjung ke kantor tigaraksa, saya teringat bahwa tantangan bunsay kali ini adalah tentang Matematika, maka saya pinjam lah 1 slipcase buku Learning Math With Albert punya kantor untuk saya pakai.

Sebetulnya tadinya mau ambil buku yang lain aja karena buat dibedah dan dipromosiin (hehe) tapi hati sudah tergerak untuk memilih LMA, untuk membersamai tugas bunsay minimal 10 hari kedepan.

Kenapa LMA, soalny saya blank tools apa yang bisa dipakai untuk stimulasi matematikanya. Yang saya tahu, LMA sudah dirancang dengan sistematis mulai dengan konsep konsep sederhana.

Berat sedikit ngga apa apa, meski harua dibawa bawa ke RS sambil nengok saudara.

* * *

Tengah malam begini, waktu yang tepat untuk bunda Me Time, belajar. Alhamdulillah, malam ini bisa baca materi Bunsay, Tantangannya, dan Cemilannya. Lalu menyimak juga sharing grup mengenai metode montessori. Lalu kemudian ingatanku melambung pada 3 tahun silam.

* * *

Saat menjadi guru kelas SD 2 tahun 2014 lalu, saya mendampingi anak-anak mengerjakan worksheet mereka, sembari menjelaskan hal hal konsep yang perlu diulang. Saat itu saya amaze sama worksheetnya.

Masing-masing anak bebas mengerjakan worksheetnya cepat atau lambat tergantung kemampuan masing masing. Dengan gambar sketsa yang khas, ubin ubin, tulisan yang besar dan memudahkan.

Saya tidak tahu pasti itu diambil dari buku apa, yang saya tahu, setiap anak akan mendapat print out nya untuk dikerjakan.

Sebuah cara belajar matematika yang baru saya tahu saat itu. Saya ingat betul karena untuk membuat soal Ujiannya pun harus menggunakan gambar atau teks sejenis, bukan sekedar angka.

Dan tahukah, setelah saya melihat buku LMA, saya baru sadar bahwa tokoh dalam sketsa  worksheet itu ya Alberts dan annie! Ya, saya baru sadar sekarang. Astaga.

Sekian nostalgia nya hihi

* * *

Lanjut ke kondisi haidar Pre-challenge ilovemath ini, saya juga menghighlight hasil assesment haidar tempo lalu oleh tim morinaga mengenai tipe kecerdasan. Salah satu hasilnya menunjukkan bahwa kecerdasan matematis/logisnya masih kurang.

Tapi perlu diketahui, bahwa itu saya yang mengisi, dan saat mengisi lebih cenderung kepada : saya memang belum banyak melakukan stimulasi yang sifatnya matematis/logis, jadi wajar kalau poinnya tidak besar :)

Kenapa? Jujur memang belum fokus, selama ini pembelajaran matematis memang seputar hal yang terjadi sehari-hari dan memang tidak apa-apa.

Sejak usia 20 bulan haidar sudah bisa menyebutkan 1-10, apa sudah jago matematika nya? Tentu belum bisa dibilang begitu, karena haidar masih meniru, belum dihadapkan dengan kondisi sehari-hari.

Kalau beli makanan pun, haidar sudah mengenal konsep berbagi. "Ini 1 untuk ayah, ini 1 buat bunda, ini 1 buat iday"

Saya perlu *lebih rajin dan niat* lagi belajarnya.

Nah, mumpung tantangan bunda sayang kali ini adalah tentang matematis logis, insyaallah akan ditargetkan agar saya secara konsisten merancang dan memberikan stimulasi matematis nya.

Kenapa? Kemampuan berbahasa dan matematis adalah salah satu hal penting yang menunjang anak memasuki usia sekolah nantinya.

Hajah Sofyamarwa R
Kamis, 23 November 2017

IG : https://www.instagram.com/p/Bbzq96dgqux/

#Tantangan10hari
#Level6
#kuliahBunsayIIP
#ilovemath
#matharoundus

Friday, September 22, 2017

Menelisik Peran sebagai Ibu, Istri dan Diri Sendiri – Buku 5 Tahun Pertama Pernikahan


Masih pergejolakan di tahap kedua : Pain, tentang sebuah penerimaan (bagian 5)

Jadi sampai pada tahap ini, saya merasa begitu nge-klik dengan buku ini adalah karena ada bahasan-bahasan dari penulis (teh fufu) yang sangat relevan dengan apa yang saya rasakan sebagai seorang istri dan ibu beru. Pada bagian ini, penulis mencoba berbagi mengenai perjalanannya dalam meneliti diri sendiri tentang bagaimana ia menjalani perannya sebagai ibu, istri, dan diri sendiri.

A.      Sebagai Ibu
Pesannya adalah, telisik kembali bagaimana sisi kanak-kanak kita saat dahulu, untuk bisa memperbaiki peran kita sebagai seorang ibu. Peran ibu sering membawa kita pada kondisi membanding-bandingkan diri kita dengan yang lain. Menurut beliau, efeknya hanya 2 : menjadi sombong, atau justru menjadi minder. Saya pribadi merasakan lebih banyak mindernya. Pengalaman menjadi ibu baru 2 tahun, pun masih kewalahan dengan diri sendiri. Perasaan “merasa di bawah/minder” itu justru membuat diri saya jadi sulit berkembang. Menelisik diri lebih jauh, mungkin bukan karena aturan yang terlalu mencekik (karena saya termasuk yang banyak dibebaskan), melainkan –mungkin- karena kurangnya apresiasi. Sehingga merasa diri tak punya apa-apa, rendah diri.
Apa pengaruhnya pada anak? Secara tak langsung kita mentransferkan rasa, sikap, emosi pada anak kita lewat pengasuhan kita. Maka refleksi untuk saya adalah: mengakui kapasitas diri itu bukan berarti sombong, justru bentuk syukur pada Allah atas keunikan yang Allah berikan. Saya pribadi sudah menyadari ini, dan berusaha memberikan apresiasi sekecil apapun pada anak saya.
Sedikit gambaran bagi tipe kedua, sombong. Biasanya karena haus pengakuan (tidak mendapatkannya saat kecil dahulu), dampak buruknya jadi mudah merasa stress ketika semua tidak berjalan sesuai harapan.

B.      Sebagai Istri
Dari part ini saya jadi terbayang bagaimana cara penulis mengkomunikasikan sesuatu pada pasangannya. Tentukan fokus pembelajarannya, belajar dengan cara sendiri. Tidak perlu menuntut pasangan untuk jadi seperti yang kita inginkan, atau seperti gambaran film romantic yang pernah kita lihat. Cerita kita berbeda, kita yang membuatnya bersama. Kalau buat saya ada tambahan sedikit, fokus menjalankan kewajiban, bukan menuntut hak.

C.      Sebagai Diri Sendiri
Disini saya juga merasakan bahwa penulis tahu betul bagaimana karakter dirinya. Memahami, mencintai diri, untuk bisa membersamai keluarga kita dengan cinta yang penuh. Untuk topik ini mungkin perlu saya buat artikel tersendiri ya hihi.

Penutup dalam bab ini :

Suami dan istri yang baik adalah ia yang tak menuntut pasangannya berubah seperti orang lain, melainkan menuntun pasangannya menjadi dirinya sendiri yang semakin baik setiap hari.
@fufuelmart


Bandung, 22 September 2017
Seorang perempuan yang sedang jatuh bangun belajar

Hajah Sofyamarwa R.

Pelajaran dari Iklan Property dan Buku 5 Tahun Pertama Pernikahan tentang Mindset


Sampai di halaman 49 dalam buku 5 Tahun Pertama Pernikahan, ingatan saya tetiba terasosiasi pada sebuah iklan perumahan yang ada di televisi. (Tahu kah, Mei*karta?) Menilik-nilik iklan tersebut, saya menangkap bahwa adanya perubahan mindset membuat segalanya jadi berbeda. Gadis kecil dalam iklan tersebut awalnya “memohon” untuk dibawa pergi dari tempatnya semula, karena lingkungannya tak nyaman. Namun di akhir cerita, ketika ia sudah melihat sesuatu yang lebih baik, mindsetnya kemudian berubah. Ia menjadi ingin pindah ke tempat tersebut.

Sekilas nampak sama. Hasil akhirnya mungkin terjadi sebuah perpindahan. Namun, pada kondisi pertama, ia seakan ingin “kabur” dari tempat semula, dan pergi bisa kemana saja. Bisa terarah, bisa jadi tanpa arah, asalkan pergi. Sedangkan pada kondisi kedua, ia menuju sesuatu impian yang ingin dicapai. Ia tahu kondisi lamanya memang tak baik, tapi itu bisa terobati dengan adanya impian yang jelas, pindah ke tempat yang lebih baik. Lebih terarah, dan mungkin hanya sedikit saja meninggalkan luka.

Kembali pada buku yang saya baca ini, saya kembali diingatkan mengenai Niat dalam Pernikahan. Bab yang seharusnya sudah 2 tahun lalu khatam bagi saya, dan mungkin belasan atau puluhan tahun bagi orang lain. Dikisahkan ada seseorang yang sudah menjadi istri dan memiliki anak, dan ketika ada permasalahan rumah tangga ada hasrat terbersit untuk pulang ke Rumah. Rumah yang mana? Rumah orangtua. Padahal dulu sekali sebelum menikah, berpikir ingin segera menikah karena kondisi rumahnya tak nyaman. Entah adanya pertengkaran, atau hal lain. Lantas kenapa ingin pulang ke rumah, padahal saat ini ia juga sedang berumah tangga?

Saya kemudian merefleksi kembali apa niat saya menikah. Ini penting karena sayapun juga mengalami masa-masa dimana saya begitu malas sekali mengatur rumah atau menghadapi gemericik konflik di rumah tangga. Mungkin saya bukan seperti contoh di atas, tantangan saya adalah untuk lebih bisa memvisualisasikan pola pernikahan yang pernah saya idamkan, berjuang mengkomunikasikannya, dan bersabar menjalaninya. Karena tentu dalam setiap pernikahan ada perbedaan-perbedaan antara ekspektasi dan realita, bagaimana pengaturannya lah yang harus terus dipelajari.

Alhamdulillah.
Mari ikhlaskan semua takdir yang telah Allah gariskan. Terima, syukuri dan berlari menuju keindahan hakiki. Bukan untuk siapa-siapa, kecuali lillah.

Bandung, 22 September 2017
Seorang perempuan yang sedang jatuh bangun belajar
Hajah Sofyamarwa R.



Friday, September 8, 2017

Kangen Nulis

Bergabung dengan 30DWC membawaku pada hal hal menakjubkan. Baru tiga jilid saja, 3 bulan tapi cukup membuka pikiranku mngenai dunia tulis menulis. Tak lantas membuatku jadi penulis hebat, tentunya. Masih sekedar memberi pupuk dan air bagi salah satu kesukaanku.

Aku rehat dulu di jilid 8, tak ikut. Alasan utamanya ingin menimba ilmu dulu karena merasa kering bila harus terus menulis tanpa menyempatkan waktu barang sejenak untuk mengisi teko.

Dan selama periode rehat ini, ternyata aku betul betul rehat. Hehe. Sekedar posting foto-foto di instagram, dengan caption yang seadanya. Kangen juga. Kangen mendengar curhatan diri sendiri. Hehe.

Selama masa ini, aku lebih fokus berjualan, ngiklan, kontak customer, packing, perdana jaga stand pameran juga. Qadarullah, beberapa hari juga harus menemani haidar yang masuk RS karena demamnya yang tinggi akibat infeksi bakteri.

Nostalgia ini, sedikit banyak terdorong dari melihat postingan kawan kawan yang ikut 30DWC jilid 8. Ada teteh sepupu yang psikolog yang ikutan, makin produktif menulisnya, makin viral tulisannya. Ada juga yang tadinya cuma sendiri, sekarang berhasil mengajak suaminya untuk ikut dan mereka soswit banget hahaha, rajin ikut sayembara, lolos dan jadi buku antologi. Terharuu :"))) pengen banget mensyen orangnya ini haha. Ada juga kaka kelas pas SMA yang juga jadi semangat lagi nulisnya. Ikut seneng :)

Belum lagi kawan kawan dari komunitas ODOPfor99days juga udah menelurkan buku antologinya. Masyaallah hebat hebat!

Alhamdulillah.
Apapun yang terjadi, nikmati prosesnya, dan yang penting terus bersyukur.

Yak mari mulai menulis lagii :D

Jumat, 8 September 2017
22:23
Hajah Sofyamarwa R.

Friday, August 18, 2017

Boardbook Anak Indonesia Murah Berkualitas ABC Indonesiaku @loveshugah

OPEN PREORDER BOARDBOOK BALITA " ABC Indonesiaku"
by Amalia Kartika Sari -
Pernah ngga, nyari buku belajar alfabet tapi versi Bahasa Indonesia? Atau malah kayak saya.. yang beli bukunya ABC tp impor 😁

Atau malah bosen karena A-nya seringan "apel"/apple,B-nya pasti "bola"/ball.
Sebenernya salah satu keinginan saya bikin buku sendiri adalah.. punya buku yang saya mau tapi ngga ada yg jual di pasaran.

Salah satunya ini.
Sebagai orang Indonesia yang suka bacain buku ke anak, kayanya kurang pas kalau belum mengenalkan "ABC" pakai buku yang menggunakan bahasa sendiri.

Maka, bikinlahhh buku ini.
Yang bisa mengenalkan ABC, sekaligus kekayaan Indonesia. Berharap dengan buku ini, anak-anak lebih mengenali negerinya, dan juga menambah kosa kata baru mereka.

Buku ini adalah jenis picture book, ada "ruang" yang saya sediakan bagi orang tua dan anak untuk "membaca" gambar. Bukan sekedar tulisan yang ada. Bahwa ada aneka Makanan enak di Indonesia, ada banyak ikan yang tinggal di Laut kita, bahwa Terumbu Karang itu sangat cantik dan perlu dilestarikan supaya hewan-hewan bisa hidup di sekitarnya, bahwa kita hidup di negeri yang beragam.. berbeda-beda tapi tetap satu Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.
-
PO Batch 1 : 17 Agustus - 17 September 2017
-

Ready pertengahan oktober insyaallah

Harga PO: IDR 95,000 (Belum Termasuk Ongkos Kirim)
Harga Normal (Setelah PO): IDR 110,000* -
Spesifikasi buku:
* Tipe board book ivory (bukan boardbook bahan dupleks abu, tapi seperti boardbook impor)
* Ukuran 14 x14 cm
* 28 Halaman
* Cover & Isi buku Ivory Paper 350 GR (gambar dan tulisan jadi lebih tajam dan menarik), hooked (ujungnya rounded)
* Finishing: gloos varnish (Semua halaman cover dan isi buku diberi gloos varnish agar awet)
* Untuk anak umur: newborn - 5 tahun

pemesanan : bit.ly/OrderViaWasap
0856-201-6256
IG : @jannafaly

1 kg muat 3 buku ya moms ^^