Tuesday, May 30, 2017

Inspirasi dari Hafiz Indonesia 2017

Saya yakin bukan hanya saya yang menangis saat menonton hafiz indonesia 2017.

Dua hari ini saya secara tidak sengaja menonton hafiz, jadi tidak menonton penuh, namun tetap saja mata ini rasanya berair.

Para peserta hafiz indonesia 2017 itu masih anak-anak, dan menakjubkan bahwa banyak dari mereka yang hafalannya sudah lebih dari 5 juz.

Saya ingin mengambil pelajaran dari dua peserta terakhir yang saya lihat.

1. Salah satu peserta menangis saat diperlihatkan video saat bertemu ibunya. Kangen. Dalam video itu, ibunya kurang lebih berkata seperti ini "Banyak orang mengira saya yang mengajarkan anak saya, padahal tidak. Justru saya belajar dari anak saya. Baru belakangan ini saya suka membaca al quran sebelumnya tidak. Kan kalau hasan murajaah mau ngga mau saya buka quran juga."

Saya bisa melihat betapa sang anak dan sang ibu saling menyayangi. Ada kedekatan emosional yang kuat diantara mereka. Sang ibu selalu mengelus-elus anaknya saat mau tidur, dan sampai sekarang masih begitu.

2. Peserta lainnya berbeda dengan yang lain karena didampingi abangnya selama masa karantina. Abangnya ini hafiz juga. Abangnya juga nampak sayang pada adiknya dan suka menyelipkan bacaan bacaan quran pada setiap aktivitas mau pun permainan. Sambil bermain petak umpet misalnya. Saat berjaga, sang adik tidak menghitung angka seperti yang biasa kita lakukan, tapi memurajaah hafalannya. Katanya kalau murajaah sambil duduk suka ketiduran.

Menariknya, ayah mereka adalah seorang tentara tni berseragam. Ini mengajarkan pada saya bahwa apapun profesinya, boleh punya impian apa saja, bahkan punya anak yang hafiz sekalipun. Saat kita masih jauh dari hafiz, kitapun boleh bercita cita punya anak yang hafiz. Kita boleh berusaha mencapainya, sembari terus berusaha pula mencapai impian itu untuk diri sendiri.

Saya juga jadi terpikir, bahwa kasih sayang yang tulus insyaallah dapat membuka jalan jalan yang tadinya kita anggap tidak mungkin.

Saya jadi ingat nasihat ust nouman ali khan, sebagai orangtua kita punya 2 fungsi : menjaga spiritual, juga menjaga kedekatan emosional. Terkadang kita bisa menjalankan keduanya sekaligus, tapi kadang hanya bisa satu persatu. Contohnya akan sibahas di lain kesempatan ya, insyaallah.

Saya jadi penasaran lebih lanjut tentang latarbelakang kehidupan masing masing dari para peserta. Bagaimana orangtuanya? Apa cita-cita dan prinsip orangtua nya? Bagaimana kesehariannya? Bagaimana caranya ? Bagaimana kiprah mereka nantinya saat dewasa ?

Masyaallah. Tabarakallah.
Semoga kita dianugerahkan cita-cita yang tinggi dan mulia, yang mengantarkan kita  dan keluarga kita pada surga Allah yang terbaik.

Selasa, 30 mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day 13

Monday, May 29, 2017

Komunikasi Produktif - Materi 1 Bunda Sayang IIP

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I'm responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4

Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Menghafal Quran di Waktu Sempit

Menghafal quran di waktu sempit, itu yang saya sari kan dari pengalaman teh Salmiah Rambe. Ibu dari 4 anak yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD kota bandung itu memanfaatkan waktu waktu nya untuk bisa menghafalkan al quran.

Usianya belum genap setengah abad, masih sekitar 48 tahun, namun sudah berhasil menghafal quran di sela sela kesibukannya.

Beliau memaparkan bahwa kalau kita sudah punya cita-cita menghafal quran kita harus membuat target, dan melakukannya. Walau menghafal quran rasanya berat, tapi kalau kita breakdown menjadi aktivitas wajib harian, insyaallah lebih mudah.

Beliau mengingatkan bahwa banyak dari keseharian kita, banyak waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menghafal. Misalnya, saat menunggu antrian rumah sakit, antrian bank, saat menunggu masakan matang, setelah selesai memandikan anak, saat anak bermain, saat sedang menunggu teman, saat menunggu antrian nikahan, dan masih banyak lainnya.

Saya pribadi masih merasa hafalan saya masih segitu-segitu saja, karena bagi saya mungkin menghafal adalah suatu yang superduper istimewa, sampai satu hari bisa berlalu tanpa menghafal -_- iya, terlalu mencari waktu khusus, tapi justru seringnya waktu terlewat begitu saja.

Saya melihat teh mia ini semacam "setiap ada kesempatan mengahafal, akan dimanfaatkan." Beda dengan saya, atau kebanyakan orang yang ketika punya waktu luang lebih memilih pegang smartphone.

Saya juga pernah bertanya pada beliau di lain kesempatan, bagaimana dengan ibu ibu rumah tangga yang juga berjualan online, yang selalu pegang smartphone karena mengurus orderan. Beliau bilang itu adalah hal mulia juga, namub berpesan agar kita mengazamkan diri untuk menyelesaikan targetan dulu, sebelum melakukan aktivitas berjualan. Hanya 3 menit sebelumnya saja, dan lakukan aktivitas seperti biasa.

Beliau juga berpesan, agar para ibu-ibu yang masih "rempong" punya anak anak kecil, untuk menikmati masa masa itu. Karena nanti setelah anak besar dan sudah tidak di rumah, kita akan merasa rindu dengan masa masa itu. Nikmati saja.

Senin 29 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day12

Saturday, May 27, 2017

Ramadhan Bersama Balita

Era digital ini, sangat mudah menjumpai berbagai rekomendasi aktivitas maupun pernak pernik penyambutan bulan Ramadhan. Rupanya tak sulit untuk mendapatkan berbagai tools bagi para orangtua memberikan pengalaman ramadhan yang berharga pada anak-anaknya.

Ada yang sejak jauh hari sudah membuat dekorasi rumah penyambutan ramadhan, ada yang sudah membuat worksheet ramadhan, ada yang sudah membeli buku-buku edukasi untuk dibaca, dan sebagainya.

Bagaimana dengan saya?

Dari jauh hari saya hanya sounding pada anak balita saya yang berusia 20 bulan. Sedikit bercerita saja, tidak banyak. Saya membeli beberapa buku tambahan untuk menjadi bahan bacaan untuk dibacakan pada anak saya. Saya tahu banyak link untuk worksheet tapi belum mencetak nya. Hehe. Intinya belum ada hal khusus yang benar-benar saya lakukan untuk mempersiapkan balita saya.

Banyaknya informasi juga perlu proses untuk mengolahnya. Sampai saat ini saya masih sekedar mengobservasi perkembangan haidar dan kemudian baru menyelipkan apa-apa yang bisa diselipkan pada waktu tersebut.

Hari pertama ramadhan, ada hal yang menarik. Seperti biasa, setiap sore pukul 4 atau 5 rumah kami kedatangan anak-anak tetangga yang belajar iqra. Usianya bervariasi, dari mulai 4 tahun, 5 tahun, 8 tahun dan 10 tahun. Haidar yang masih 20 bulan pun belum mengikuti proses belajar. Sekedar ikut bermain dan terkadang ikut menirukan proses membaca iqra nya.

Sejak magrib dan masuk 1 ramadhan, saya dan suami berlomba membaca quran bersama. Praktis haidar tidak mendapat teman bermain, dan tentu saja berupaya mengajak kami memperhatikannya. Jangan tanya bagaimana kondisi quran saya saat ini, hihi. Saat kami mengaji, haidar juga ingin mengaji.

"Aji, ngaji.." celotehnya.

Karena saya pun sedang mengejar target bacaan, maka saya mencarikan quran yang ada untuk haidar pegang, setidaknya kami semua jadi sama. Hehe. Menariknya, haidar sudah bisa membuka qurannya sambil menunjuk huruf-hurufnya dan mengucapkannya seolah benar-benar membaca. Gayamu, dek ^^

Mungkin selama ini haidar sering mendengar dan melihat kakak-kakak membaca iqra. Saya sendiri belum pernah mengajari haidar secara langsung membaca iqra. Selain karena haidar masih terlalu kecil, saya menganggap bahwa nanti akan tiba masanya untuk belajar iqra. Kami hanya berusaha mensuasanakan saja, memberi atmosfernya.

Hal menarik lainnya, saya berusaha mendiktekan huruf huruf hijaiyah sederhana untuk haidar ulangi. Misal A, I, U atau Ba, Bi Bu, sampai huruf hijaiyah terakhir. Dan hidar bisa mengikutinya dengan baik, kecuali pada huruf tsa, tsi, tsu. Masih terdengar ca,ci,cu. Hehe. Haidar senang sekali. Bahkan ketika saya baru mengatakan A dan I, haidar sudah mengulangnya dengan mengatakan A,I,U secara lengkap. Masyaallah.

Hikmah yang bisa saya petik, setiap anak punya kemampuan, dan masa nya masing masing untuk belajar. Sebagai orangtua perlu mendampingi dan berusaha menemukan momen untuk bisa melakukan pembelajaran secara alami sesuai perkembangan anak.

Tidak perlu iri bila perkembangan anak kita berbeda dengan yang lain, karena memang beda. Tidak perlu merasa inferior karena melihat ibu-ibu lain melakukan kegiatan ini itu, sementara kita tidak. Yang perlu diingat adalah, apakah pendampingan kita sudah maksimal? Kalau belum ya tingkatkan.

Masing masing anak sudah lahir dengan fitrah keimanan masing-masing,
Semoga kita terus dibimbing Allah untuk membimbing anak-anak kita ya.

Sabtu, 27 mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day11

Masjid Penuh, Masjid Kosong


"Besok weh lah, hari pertama mah rame, besok-besok masjid juga mulai kosong." Gumam seorang bocah laki-laki usia belasan tahun itu.

Ini ramadhan ke-3 saya paska menikah dan mempunyai anak. Namun baru kali ini aku menjejakkan kaki lagi di masjid untuk shalat tarawih berjamaah di masjid. Pelataran masjid dipenuhi sendal jamaah yang tumpah ruah, bahkan pintu masjid harus ditutup dulu selama shalat karena tempatnya terbatas.

Perkataan anak tadi, sedikit banyak menggambarkan fenomena yang sering terjadi dan sering diungkapkan banyak orang. Malam-malam pertama di bulan ramadhan masjid akan penuh, dan seiring berjalannya waktu, masjid akan terasa semakin luas.

Apakah karena semangat nya yang semakin kendor? Ah, mudah mudahan tidak. Meskipun iman naik dan turun, tapi semoga semangat mendekat pada Allah semakin membesar. Aktivitas ayah mencari nafkah bagi para ayah dan aktivitas domestik bagi para ibu juga tetap dilakukan sebagai wujud ketaatan pada Allah. Dan tarawih pun sebetulnya bisa dilakukan di rumah masing-masing.

Honestly, saya nulis ini karena baru kali ini saya merasa "terusir" dari masjid karena shafnya sudah penuh. Hihi. Iya, masjid di dekat tempat tinggal saya saat ini mungkin ukurannya tidak sebesar masjid yang dulu sering saya kunjungi saat tarawih. Maka pengalaman ini menjadi unik, karena setelah ke masjid, saya harus pulang karena tidak ada tempat lagi.

Tentang fenomena masjid yang semakin kosong seiring berjalannya ramadhan, dulu saya juga mengamati dan memang itu yang terjadi. Dulu saya masih bisa menikmati meski shalat di halaman luar masjid saat sedang penuh. Saya juga mengamati kemajuan yang ada, majunya shaf shalat karena sedikit jamaah. Hihi. Hanya kini, saya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tak bisa shalat tarawih di masjid saat sudah niat, dan dengan drama tambahan karena kini berangkat bersama bocah, itu rasanya aneh juga. Saat itu saya berharap masjid menjadi cukup "kosong" atau lebih luas untuk bisa saya gunakan juga. Hehe

Note : tentang membawa anak anak ke masjid juga ada adabnya ya. Bukan sekedar membiasakan anak ke masjid melainkan juga mengajarkan adab-adab. Sesuaikan juga dengan usia anak. Usia anak saya 20 bulan, sebetulnya belum perlu untuk dibiasakan ke masjid, insyaallah nanti akan ada masanya. Saya hanya ingin merasakan suasana ramadhan saat tarawih.

Sabtu, 27 mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Malam tarawih pertama

Thursday, May 25, 2017

Ketika Abdullah Mencandai Ibunda Asma

Urwah menceritakan, pernah aku dan 'Abdullah saudaraku, datang menemui ibunda kami, yaitu sepuluh hari menjelang gugurnya Abdullah. Ketika itu ibu sedang sakit, maka Abdullah menyapanya, bagaimana keadaanmu, Bu..?

"Sakit.." jawabnya,
"Sesungguhnya dalam kematian itu ada ketenangan.." kata 'Abdullah sambil bercanda.
"Nampaknya kau ingin agar aku segera mati ya? Jangan begitu dong.." kata Asma sambil tersenyum.
'Demi Allah, aku belum ingin mati sebelum engkau mengalami satu dari dua hal; kamu terbunuh kemudian aku sabar dan mengharap pahalanya dari Allah, atau kamu menang sehingga aku pun senang. Ingatlah, jangan sampai kamu dihadapkan pada suatu taktik yang tak kau setujui, kemudian kau terima karena kau takut mati." pesan Asma kepada Abdullah.

* * * 

Cerita di atas saya ambil dari buku Ibunda Para Ulama yang disusun oleh Sufyan bin Fuad Baswedan MA. Saya tergelitik untuk mengutipnya, karena melihat suatu bentuk candaan yang diungkapkan seorang anak pada ibunya. Mungkin kalau jaman sekarang terjadi, entah apa tanggapannya. 

Candaan yang dilontarkan sang anak, menurut saya, bukan sembarang candaan. Meskipun kalau kelak anak saya tetiba bilang seperti itu, saya juga belum tahu akan beraksi apa. hihi. Dapat dilihat sekilas bahwa hubungan mereka juga tidak sebatas perkara spiritual, namun juga ada canda-canda yang manusiawi Yang menarik juga adalah respon santai dari sang Ibunda, tidak ada kata-kata tersinggung atau marah. Bisa kita lihat bahwa setelah itu sang Ibunda malah memberikan pesan/harapan pada anaknya terkait kematian itu sendiri. 

Apa-apa yang terjadi pada jaman dahulu, selama bukan syariat, tak serta merta harus kita contoh sepenuhnya. Pengalaman pribadi para orang shaleh terdahulu bisa kita ambil pelajarannya. Mungkin kita bisa memotivasi anak-anak kita untuk terus berkarya mencapai kesuksesan prestasinya di dunia dengan tetap mengingatkan nya pada kehidupan yang sesungguhnya. 

Semoga para ibunda di seluruh dunia ini (khususnya saya) dapat memberikan nasihat terbaik untuk anak-anaknya dengan bimbingan Allah. Karena sungguh, tak mudah memberikan sesuatu yang tak kita punyai dari dalam diri. Semoga Allah mudahkan kita untuk perbaiki diri.
"Wahai Puteraku, hiduplah sebagai orang mulia, dan gugurlah sebagai orang mulia pula. Janganlah kamu sampai jatuh dalam tawanan mereka." 
--Nasihat Bunda Asma pada puteranya, Abdullah bin Zubeir

Kamis, 25 Maret 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30DWC #30DWCjilid6 #30DWChajah #day9 

Wednesday, May 24, 2017

Komunikasi Keluarga, Positif dan Konstruktif

Buku biru berpenampilan usang itu kembali saya buka. Terakhir membuka buku itu, ketika saya merasa perlu solusi atas suatu permasalahan komunikasi yang terjadi dalam keluarga. Kini  saya buka lagi, karena mungkin saya perlu mengingat kembali ilmu-ilmunya.

Komunikasi. Sesuatu yang tak pernah bisa lepas dari manusia. Sesuatu yang sangat penting, apalagi dalam satuan unit terkecil dari masyarakat, keluarga. Ketika kita percaya bahwa banyak hal berawal dari keluarga, maka memperhatikan komunikasi kita dalam keluarga menjadi sangat penting, setuju?

Saya banyak memperhatikan kawan-kawan dan bagaimana pola komunikasinya dengan keluarga. Ada yang begitu jujur hangat dekat, ada yang sekedarnya, ada yang dekat sekaligus sering debat, ada yang tipe unyu-unyu cocwit anet (lucu, so sweet banget - red) ada yang formalitas karena takut akan superioritas orangtua, ada yang dingin dan larut pada kesibukan masing-masing. Ah, saya selalu penasaran dengan hal ini.

"Ada jutaan keluarga lain yang para anggotanya kelihatan dapat bergaul rukun, tetapi hanya karena menghindari pengungkapan perasaan yang terbuka dan apa adanya. Karena pengungkapan perasaan dihindari, maka para anggota keluarga tersebut tidak dapat benar-benar saling mengenal satu sama lain, dengan demikian mereka tidak bisa mengalami keindahan dari keakraban dan persatuan yang berasa dari komunikasi yang terbuka, jujur dan konstruktif. Bahkan dalam banyak keluarga yang cukup rukun pun sering terjadi kesalah pahaman dan hal yang menyakitkan hati, sehingga kegembiraan dan kepuasan dalam hidup keluarga terganggu."
--- Sven Wahlroos, ph.d (pendahuluan hal xvi)

Sering saya temukan, orang-orang memilih diam daripada harus berargumen/berbicara. Kadangkala berbicara malah menambah runyam, namun kalau tidak dibicarakan apa jadinya? Setahun dua tahun mungkin bisa, tapi keluarga kan tidak ada istilah resign, tidak bisa berlepas diri dari interaksi.

Ajaran islam yang saya tahu, mengajarkan untuk menghindari debat kusir, debat yang tak jelas juntrungnya, lantas bagaimana? Ya, sepertinya kita perlu mempelajari bagaimana cara berkomunikasi yang baik, dan insyaallah ada ilmunya. :)

* * *

Untuk kepentingan pembahasan komunikasi keluarga, Sven Wahlroos dalam bukunya mendefiniskan komunikasi sebagai semua perilaku yang membawa pesan dan yang diterima oleh orang lain.

Komunikasi efektif berbeda dengan komunikasi konstruktif. Mengambil contoh dari buku, seseorang yang membanting pintu, mungkin bisa mrngkomunikasikan kemarahan secara efektif, tetapi komunikasinya tidak konstruktif dan memecahkan masalah. Sama hal nya seperti diri saya. Saya marah dengan diam (lalu mencuci piring, menyetrika atau beberes rumah hihi) yang kadang disertai bunyi-bunyian yang tidak biasa. Efektif, mengkomunikasikan bahwa saya sedang marah, tapi nyata nya tidak konstruktif. Suami saya tidak menyukai hal itu (haha gimana dong)

Menariknya, komunikasi yang secara sadar dimaksudkan sebagai positif, malah dapat diterima sebagai negatif. Jadi hemat saya, dalam berkomunikasi tetap perlu melihat ke dalam diri, apa yang kita anggap biasa/positif belum tentu ditangkap yang sama oleh lawan bicara kita.

Kesimpulan dari saya sampai saat ini : Kita perlu mengupayakan komunikasi yang positif dan konstruktif, setiap harinya.

"Hancurnya suatu hubungan biasanya disebabkan oleh hal-hal sehari hari yang keliatannya sepele, seperti tidak ad perhatian, permusuhan, pengjinaan, dan lain sebagainya, bukan oleh pengkhianatan & malapetaka. Demikian pula hubungan yang baik, didasarkan atas kasih sayang, perhatian, dan keterbukaan yang dipraktekkan setiap harinya."
-- Sven Wahlroos, Ph. D (Peraturan-peraturan komunikasi hal 8)

Selamat menyemai benih kebaikan pada keluarga kita :))
Jadi ingat mau masuk kelas Bunda Sayang sebentar lagi.
Mari tingkatkan terus belajarnya, aksinya :))

24 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day8

Monday, May 22, 2017

Tentang Siapa Yang Berpulang Duluan

Malam itu kami tiba pada suatu perbincangan yang sedikit berbeda. Topik ajaib semacam ini dilontarkan pertama kali oleh pak suami, tumben, hihi.

"Bener loh, bunda kalau jualan-jualan gitu juga harus diseriusin." Kata Ayah

"Hmm, kenapa gitu yah?" Tanyaku penasaran. Aku sangat ingin tahu kenapa tiba-tiba si ayah ngomongin itu.

"Ya kan nanti kalau ayah udah ngga ada, gmn? Kan tetep harus stabil, harus bisa mandiri. " Lanjut ayah.

"Kan nanti ada warisan dari ayah. Hehe" lanjutku sambil bercanda.

"Haha, warisan apa. Hutang iya kali. Hihi. Kan ayang tau ya hutang-hutang ayah, selamat ya. Hihi" Lanjutnya menanggapi candaanku.

"Iya sih, yah. Ya mungkin kalau nanti kaya gitu, bisa jadi aku harus cari kerjaan di luar, dan mungkin haidar harus dititipin. Da rejeki mah insyaallah ada, tinggal nyari caranya." Jawabku santai, sambil berpikir.

Kemudian aku jadi teringat pada seorang tokoh fiksi di novel Sabtu Bersama Bapak. Sosok bapak yang setelah divonis hidupnya tak lama, segera mempersiapkan wejangan-wejangan untuk anaknya berupa rekaman video yang bisa ditonton setiap hari Sabtu. Sosok bapak itu juga mengatur agar sang istri nantinya bisa mandiri setelah kepergiannya.

Tokoh fiksi, yang semacam itu entah ada di dunia nyata atau tidak. Tapi menginspirasi, dan mengingatkan kita untuk memperhatikan hal-hal sepeninggal kita.

* * *

Kini giliranku yang bertanya,
"Nah, kalau misalnya yang duluan itu bunda, gimana? Tinggal cari lagi yang lain aja, ya?" Kataku sambil tertawa pasrah.

" ... " aku lupa apa jawabannya, kayanya cuma ditanggepin dengan ketawa hehe.

* * *

Well, cukup ajaib ketika pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Maksudnya, usia pernikahan kami belum genap 2,5 tahun, masih lucu-lucunya. Tapi candaan semacam itu (kematian, menikah lagi), sejujurnya dalem banget.

Saya kalau belum terkondisikan, mungkin baper banget sama pertanyaan sendiri.  Hihi. Iya lah namanya juga suami istri ya. Saya jadi ingat pernyataan seseorang : kalau perempuan ditinggal mati suaminya, mungkin sulit untuk segera mencari pasangan baru, karena ketika perempuan sudah cinta dengan seseorang, tak mudah menggantinya dengan yang lain. Sedangkan kalau laki-laki yang ditinggal mati istrinya, mungkin lebih cepat mencari yang baru karena laki-laki memang perlu ada yang ngurusin. Bener ga sih ? Hehe

Overall, itu ngingetin aku sih supaya cinta kita pada makhluk itu tidak berlebihan, sesuai porsinya saja. Kalau misal aku yang meninggal duluan, terus suami aku nyari istri yang lain, sedih ngga? Misal ternyata istrinya nanti lebih baik dari aku, lebih cantik, lebih rajin, lebih shaleh? Kalau sekarang dipikir mah ya sedih, hihi. Tapi kalau kita udah meninggal, ya boro-boro sedih karena hal begituan, ya ngga?

Belum lagi saya kepikiran sama bidadari yang nungguin suami saya di surga sana. Rasanya aku ko semakin kaya remah rangginang gitu kalau dibandingin bidadari surga bermata jelita itu. Hihi.

Mumpung masih hidup, dan Allah kasih kita kesempatan untuk terus belajar dan perbaiki diri, lakukan aja yang terbaik. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk jadi wanita terbaik yang bisa nandingin bidadari surga. *ciyee saingan. Kapan-kapan kita belajar bareng ya tentang saingan kita ini haha.

Jodoh mah rejeki masing-masing. Doa'anya semoga nanti bisa tetap berkumpul di surga Nya Allah.

Aamiin.

Selasa, 22 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Saingan Bidadari Surga (wannabe) hehe

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day6

Jadi Harus Bersyukur

Siang itu angkutan kota menemaniku ke salah satu kantor cabang sebuah bank. Urusan kredit rumah, yang sebagian orang juga melakukannya. Keadaanku pada waktu itu membuatku dan pasanganku sepertinya harus menghentikan kredit, dan segera menjual rumah tersebut. Akupun mendatangi bank untuk sekedar menanyakan tentang proses penjualan rumah.
Malam sebelumnya sempat berdiskusi hebat dengan suami tentang hukum kebolehan KPR dan perdebatan mengenai halal haramnya.

Selepas urusanku selesai, kini tibalah giliran seorang ibu yang usianya masih sekitar 30-40 tahunan. Sepertinya sama, rumah KPR yang diambil persis pada tahun yang sama dengannya, akan dijual.  Sambil beres beres berkas, tak sengaja aku mendengar bahwa wanita tersebut sudah bercerai dari suaminya. Dan yang jadi perdebatannya ternyata adalah tentang harta gono gini nya, dan apakah kedua belah pihak akan mau saling hadir pada saat akad serah terima KPR nantinya.

Cess.. Astaghfirullah.
Begitu banyak hal yang harus disyukuri.

* * *

Lembaga pernikahan tak pernah menjanjikan kebahagiaan dunia yang terus menerus sepanjang harinya. Pun juga tidak menawarkan kepahitan untuk kita cerna setiap harinya. Sedikit perbedaan pendapat memang wajar terjadi dan hasil akhirnya bergantung cara kita menyikapinya.

Bersyukurlah, ketika pernikahan kita masih dibumbui oleh pembicaran-pembicaraan kecil yang hangat, yang kadang membuat kepala tak sedingin biasanya. Insyaallah, Mudah-mudahan disana masih terselip emosi saling sayang, saling peduli, saling bertanggungjawab pada Tuhannya.

Yuk ah, syukuri kehidupanmu, pasanganmu. Salah satu karunia terbaik yang Allah berikan padamu :)

Hikmah Jumat 17 maret 2017
Di edit 22 mei 2018
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day5 #hikmah

Saturday, May 20, 2017

Perhatikan Apa Yang Kau Wariskan

"Heeh, dasar penjahat! Sekali waktu di pihak 'Ali, lalu  di pihak Ibnu Zubeir, dan sekarang bersama Ibnul Asy'ats.. Dasar penyulut fitnah!!" celetuk Hajjaj.

"Siapa yang Amir maksud?", tanya Anas bin Malik.
"Siapa lagi selain kamu? Dasar tuli!!", bentak Hajjaj.

"Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun..." batin Anas.

Kemudian Hajjaj tersibukkan dengan urusannya dan Anas pun keluar. Maka kami membuntutinya hinga tiba di sebuah lapangan terbuka, lalu kata Anas: "Kalaulah aku tak mengkhawatirkan nasib anak-anak sepeninggalku, niscaya akan kuucapkan kepadanya kata-kata pedas yang setelah itu ia tak mungkin membiarkanku hidup..."

* * *
Itu adalah kondisi yang terjadi ketika Anas bin Malik dipanggil penguasa. Respon yang ia ambil senada dengan kondisi emosional yang terjadi pada kedua orangtuanya (Ummu Sulaim dan Abu Thalhah, ketika Ummu Sulaim dengan cara yang halus memberitahukan suaminya bahwa anaknya telah meninggal)

Kalau diperhatikan, saat dikata-katai Hajjaj, Anas juga merasa jengkel, namun memiih bersabar. Ia melampiaskannya pada waktu dan tempat lain, dengan tetap baik, tidak mengapa, manusiawi.

Cerita itu saya dapatkan dari buku Ibunda Para Ulama, mengenai ketabahan dan kematangan pemikiran Sang Ibunda Ummu Sulaim. Saat ini saya sedang mempelajari bagaimana karakter wanita pendidik di balik para Ulama besar. Pelajaran yang saya tangkap adalah, respon dan karakter orangtua (dalam hal ini ibu) sedikit banyak sangat memengaruhi anak. Selain itu, dalam melakukan sesuatu, sebagai manusia kita juga harus memikirkan keturunan-keturunan kita, generasi-generasi penerus kita. Memikirkan dengan baik, apa "warisan" yang dapat kita wariskan pada generasi setelah kita.

Mungkin status agama bisa diwariskan, tapi iman tidak. Belajar dari kisah Ibrahim, bahwa dari Ayah yang pembuat berhala, ternyata sang Anak malah menjadi orang shalih panutan umat. Kisah nabi Nuh pun mengilhamkan pada kita bahwa ayah yang shalih tak serta merta membuat anak dan istrinya beriman pada Tuhannya. Banyak pula yang lahir dalam lingkungan keluarga beragama tertentu, kemudian mencari dan berpindah keyakinan lain.

Jadi agama "mungkin diwariskan (statusnya)", tapi semenjak aqil baligh (dewasa) keputusan memilih dan mempertanggungjawabkan pilihan adalah keniscayaan setiap orang.

Pesannya adalah, carilah terus kebenaran, semoga  dalam prosesnya semakin mendekatkan pada Sang Pencipta, pada apa yang Ia perintahkan.

Respon kita menentukan kualitas diri kita :)
Tetap sopan, santun, saling menghargai, dan saling mengingatkan dalam kebenaran ya! :)

Sedikit mengutip suatu ayat untuk menjadi pengingat, tanpa bermaksud mencocok-cocokkannya dengan isi tulisan.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S 4:9)

19-20 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day4

Friday, May 19, 2017

Mencintai Pemilik Cinta


Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Ada yang jalan berputar-putar mengetuk puluhan hati, ada yang harus setiap hari menutup rapat hatinya, ada pula yang cukup sekali-dua kali diketuk lalu telah menemukan cintanya.

Pengalaman-pengalaman itu sewajarnya mendewasakan. Yang pernah sakit, akan sadar bahwa pernah berusaha bangkit adalah sebuah nikmat. Yang tak pernah merasa sakit juga bukan lantas terlena, karena ujian tetap ada di depan mata.

Para pecinta perlu sadar bahwa pelabuhan hati terakhirnya bukan sekedar jodoh di dunia. Perlu waktu dan proses untuk memahaminya, pun perlu senantiasa diingatkan selama prosesnya. Taatnya, baiknya, kebersamaannya harus membuat masing-masing dari kita semakin dekat kepada-Nya, Sang Pemilik Cinta.

* * *
Suami saya saat ini insyaallah adalah yang terbaik yang Allah pilihkan untuk saya. Saya mencintainya, dan saya juga sama seperti perempuan pada umumnya, masi merasa butuh dicintai makhluk. Ingin menjadi yang paling diperhatikan, disayang, dimanja. Dan ironinya, karena kita makhluk yang lemah, terkadang tak semua yang kita harapkan akan selalu terjadi. Lantas bagaimana?

Nasihatnya satu, cintailah sang Maha Cinta. Maka keberlimpahan cintaNya akan mengalir deras pada siapa saja, termasuk pasangan kita, anak anak kita. Teruslah menggapai cinta Nya, karena energi cinta Nya tak pernah melemah karena hal hal yang tak indah menurut pandangan kita.

19 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day3

Thursday, May 18, 2017

Ibu adalah Madrasah, Kata Siapa?



Sudah sering mendengar kalimat "Ibu adalah madrasah pertama"? Tahukah kamu siapa salah satu orang yang mengatakannya?

"Ibu adalah madrasah
yang bila kau siapkan dengan baik
Berarti engkau menyiapkan generasi yang terdidik..."
-- Hafizh Ibrahim, Penya'ir kenamaan asal Mesir

Serasa mendapat pencerahan ketika saya membaca kutipan tersebut dalam sebuah mukadimah dari buku Ibunda Para Ulama yabg diterbitkan oleh Pustaka Inabah. Ah, ternyata kata-kata itu disebutkan oleh seorang penyair asal mesir. Sampai detik ini saya belum mencari dengan baik, sosok seperti apa penyair tersebut.

Kalau boleh jujur, berpontang-panting mengikuti berbagai seminar atau majelis ilmu mengenai ilmu parenting tak serta merta membuat saya dapat segera mengaplikasikannya. Syukur alhamdulillah masih Allah beri saya nikmat untuk menuntut ilmu. Alhamdulillah, semoga semua itu dapat menyusun suatu pemahaman yang benar, agar tanggung jawab saya sebagai orangtua juga bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Ada satu titik dimana saya kemudian terhenti. Ilmu parenting atau ilmu menjadi orangtua, khususnya ibu, dan bagaimanapun juga mencakup berbagai dimensi. Tak cukup dengan batu bata pemahaman sendiri, namun harus juga bersama dengan pasangan kita (ayah dari sang anak). Kita masih punya peran sebagai istri, yang juga harus menaati pola/sistem macam apa yang jadi keinginan suami, insyaallah ada berkah disana. Namun menjalaninya memang perlu beriringan, tumbuh bersama.

* * *
Ibunda adalah madrasah, katanya. Di balik tokoh-tokoh hebat selalu ada jasa wanita dibelakangnya. Entah ibunya, entah istrinya. Allah ciptakan kaum wanita dengan segala kesempurnaannya mengemban amanah sebagai pendidik yang lembut dan penuh kasih sayang, fitrahnya.

Tanpa meniadakan peran para ayah, tentunya. Tulisan ini dibuat untuk melengkapi pemahaman para wanita (khususnya saya), terhadap peran penting seorang ibu dan ayah.

Dari sekian banyak ilmu parenting yang ada, saya kemudian merasa "tersesat", merasa perlu menjernihkan kembali pemahaman. Saya dicerahkan melalui sebuah video dari Ust Nouman Ali Khan yang mengingatkan untuk melihat konsep parenting dari sumber utama umat islam, Al Qur'an. Ya, seharusnya dari sanalah saya memulai.

Yang jadi menarik adalah dalam Al-Qur'an, nama Luqman menjadi sangat terkenal. Dan tugas parenting yang utama adalah justru dari sosok Ayah. Sangat kontradiksi dengan kenyataan bahwa hampir di setiap seminar parenting isinya kebanyakan para wanita. Eh, bukankah Luqmanul Hakim adalah seorang laki-laki? Lalu bagaimanakah sosok ibu digambarkan dalam Al-Qur'an ?

To be continued
Kamis, 18 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Seorang Bunda yang Mencari Bentuk
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day2

Wednesday, May 17, 2017

Salesman PT Salem Mandiri Jaya (SMJ), Electronic Pulse Massager, dan Buku Motivasi


Ini pengalaman saya kedatangan seorang sales dari PT. Salem Mandiri Jaya (SMJ) ke dalam rumah saya. Kali ini yang ditawarkan adalah sebuah alat kesehatan pijat elektrik SMJ Pro.

Kalau ingat postingan saya sebelumnya tentang sales blender disini, metode penjualannya kurang lebih sama.
Sales itu mohon ijin masuk ke dalam rumah saya, sementara saat itu ruang tamu saya dipenuhi butir-butir styrofoam karena anak saya habis main salju awur-awuran hihi, mohon bersabar ya mba.

Dengan ekspresif dan tanpa henti berbicara, ia berusaha meyakinkan saya dengan produknya. Cara dia bicara sampai membuat saya bingung, kenapa dia begitu yakin dengan produknya. Saya hanya berusaha sopan, merespon dan mendengarkan saja.

Katanya, perusahaannya ini baru dibuka di kiara condong, dan dua pekan lagi akan ada pameran di RS Hasan Sadikin dan RS Santo Yusuf. Produk itu katanya tidak dijual bebas, hanya ada di rumah sakit, dan harganya pun sekitar 1,3 juta (1.299.000).

Benefit alatnya katanya buat ngurangi pegal, sakit, nyeri otot, melangsingkan, buat terapi, stroke, ngelancari sirkulasi darah, syaraf,  dll. Bisa dipakai untuk seluruh anggota keluarga (kakek, nenek, mertua, orangtua, suami). Tapi pas disuruh coba, saya ngga coba karena emang ngga minat hehe.

HANYA 3 KELUARGA YANG BERUNTUNG, YANG BISA MENDAPATKAN ALAT INI
Ya, harga 1,3jt an itu katanya free, dan tidak perlu dibayar kalau keluarga saya memenuhi syarat. Hanya perlu ganti ongkos kirim, sekitar 300ribu rupiah (299.000). Saya bingung itu ongkos kirim dari mana, karena saya emak-emak olshop yang suka ngitungin ongkir, kalo jarak kircon ke sini pake jne aja paling 7ribu perak. Hihi. Ternyata katanya ongkir dari korea nya. Hehe.

Syaratnya adalah memiliki minimal 1 produk di rumah dari produk sponsor mereka. (Phillips, maspion, yongma, cosmos, 1 lagi lupa). Syarat lainnya, memiliki 1 alat elektronik berupa : setrika, kipas angin, blender, magic jar, 1 lagi lupa hihi. Setelah diminta ambil salah satu barang tersebut, dia akan mengecek nomer seri alat elektronik kita, dan mencocokkannya dengan tabel nomer seri yang dia punyai.

Alat yang pertama saya ambil kipas angin, iseng. Karena saya tahu merk nya okoyama hihi. Pas di cek pun ngga ada nomer seri yang cocok. Dicoba ambil alat kedua, setrika, pas kebetulan merk phillips hadiah nikahan. Setelah dicek saya dikasih ucapan selamat karena nomer seri setrika saya terdaftar, dan saya beruntung berhak mendapat alat kesehatan SMJPro tersebut.

Dengan meyakinkan, ia mengatakan bahwa banyak keluarga lain yang punya alat rumahtangga dengan nomor seri tidak resmi, katanya karena ngambil di tetangga (?) kredit gitu mungkin ya maksudnya. Mau dibayar 1 juta juga ngga akan dia kasih, karena ngga memenuhi syarat, katanya dengan yakin.

BILANG TIDAK
Singkat cerita, saya bilang maaf. Tidak ada budgetnya, harus diskusi dulu dengan suami, dan harus tau dulu review alatnya. Saya lalu ceritain pengalaman saya ketemu sales blender yang waktu dulu. Hehe.

PENUTUP
Saya jadi berkesempatan ngobrol lebih jauh tentang personal sales tersebut. Usianya 20 tahun, anak rantau dari pekan baru, kerjanya baru 2 pekan. Dengan berhasil menjual produk ini ia dapat poin dan berkesempatan naik jabatan. Katanya sistem penggajiannya ditabung, jadi kalau ortu nya perlu uangnya, baru nanti diberikan (tentang ini perlu konfirmasi lagi ya, kemarin kurang jelas). Ia bilang dulu, setelah lulus SMK, sempat kerja di pabrik roti selama 2 tahun. Sempat nganggur dulu di rumah lalu dapat kerja.

KESAN
Saya mungkin termasuk yang suka males kalau ditawari barang semacam itu di rumah. Tapi nyatanya, ujung ujungnya saya malah beli wkwkw (dulu pernah beli menicure set yang dibilang promo, taunya setelah itu souvenir dari kondangan banyak yang ngasi menicure set haha zonk). Berusaha sopan aja, tapi tetep kepo sama latarbelakang sales nya.

Lucunya, kita malah ngobrolin buku motivasi, karena dia liat lemari buku di ruang tamu saya. Dia semangat gitu sama buku-buku motivasi, biar gimana jiwa muda berkobar lah ya. Saya bingung pas ditanya buku yang bagus, karena buku yang saya punya mah ya bagus-bagus karena kesukaan hehe.

"Mba, itu bukunya banyak ya. Quran semua mba?"
"Haha ya enggak mba, macem-macem"
"Ada buku motivasi ngga? Saya minta satu boleh ya?"
Lucu sih hihi ngga pake basa basi. Saya juga bingung karena buku motivasi yang saya punya kebanyakan untuk muslim (penerawangan saya bliau bukan muslim). Akhirnya pilihan saya jatuh pada buku Muda Mulia nya kang Rendy Saputra, dengan harapan ada hidayah terselip disana. Dan satu lagi bukunya dale carnegie "pemimpin dalam diri anda", value nya universal dan to the point buat pengembangan diri.

REFLEKSI
Tetap pakai logika ya kalau ada yang nawarin barang. Metode jualan udah kreatif banget hehe.
Ternyata cara orang mencari rejeki itu sangat beragam, dan kita harus saling menghargai.

Kita bisa berbuat baik dengan banyak cara, bahkan ketika ngga punya uang, cuma punya buku, ya ngga apa-apa. (Da saya juga jualan buku, masa kitu wae meni kopet haha) Mudah-mudahan tambah bermanfaat kalau dia yang baca. Insyaallah sharing disini aslinya karena menurut saya kejadian ini unik buat saya pribadi.

17 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day1