Wednesday, July 20, 2016

Pengalaman Menyusui

Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing. Ringan bagi yang satu, belum tentu ringan bagi yang lain. Berat bagi yang satu, belum tentu berat pula bagi sebagian orang yang lain.

Maka benarlah. Bukan kondisi yang membedakan para manusia, melainkan bagaimana cara mereka menghadapinya.

* * *
Menjejak babak baru dalam kehidupan saya sebagai istri sekaligus ibu, masih tak lepas dari berbagai macam "kekagetan" yang saya rasakan. Biasanya saya dapat menuliskan/menggambarkan apa - apa yang saya rasakan paska mengalami suatu kejadian. Sedikit rehat dan berkontemplasi, muncullah sebuah tulisan --entah di blog atau di dalam diary. Namun menjadi istri sekaligus menjadi ibu, --jujur-- menggambarkan apa yang dirasa menjadi terlalu sulit diungkapkan.

Sudah 10 bulan 10 hari saya menjadi ibu dan saya masih merasa seperti itu. Tak apa, syukuri saja. Banyak di luar sana yang mengalami "rasa-rasa" lain, yang saya tak pernah bayangkan bila harus terjadi pada saya. Tak sedikit ibu  paska melahirkan mengalami baby blues, post partum depression. Sensitif sekali kalau bahas itu, saya sendiri tak punya kapasitas membicarakan itu. Yang pasti mari kita doakan agar semua ibu di dunia ini mendapatkan berkah dari pengalaman pengalamannya.

Tentang ASIX
Haidar sudah lulus ASI ekslusif selama 6 bulan. Begitu banyak kampanye ASI eksklusif digaungkan, mendukung Bunda Bunda supaya bersemangat dan "keras kepala" untuk tetap menyusui. Maka kini lazim sekali ASIP (ASI Perah), ibu ibu bekerja juga tetap berupaya memberi yang terbaik dengan tetap memompa ASIP untuk anaknya. Ibu ibu yang tak bekerja di luar rumah "dengan mudah" menyusukan bayi nya langsung. Alhamdulillah. Meski begitu, tantangan selalu ada. Ada yang ASI nya lancar, ada yang dengan indikasi medis perlu tambahan sufor, ada yang sama sekali hanya sufor karena hamil lagi, dll.

Tantangan menyusui yang lainnya juga masih banyak. Entah susah posisinya, entah ada kelainan, entah puting ngga keluar,dll. Itulah hidup, kadang bukan sekedar perkara mana yang terbaik, melainkan pula mana yang cocok untuk kondisi masing masing. Tenang saja.

PENGALAMAN MENYUSUI HAIDAR
Usai operasi sesar, saya hanya bisa berbaring. Menyusui pertama sebisanya, karena miring badan saja sulit. Puting belum "keluar" sampai harus "ditarik" dengan suntikan besar (tanpa jarum dong). Awal awal cuma berhasil kalau menyusu sebelah kiri, sebelah kanannya masih sulit.

Saat sudah bisa duduk, tantangan lainnya saya kena sakit pinggang, ada wasir pula, plus posisi nya masih kagok. Belum lagi, kita masih sensitif banget. 1 bulan sakittt banget rasanya. Lewat sebulan udah mulai nyaman. Awal-awal selalu menyusui dengan duduk, tapi setelah tahu bahwa sambil tiduran itu bisa, sampai saat ini malah seringnya tiduran. (Sambil sering ikutan ketiduran :") hehe

Seminggu pertama, kalau malam haidar bangun sekitar 4x, setelahnya kira kira hanya 2-3x. Alhamdulillah.

Sebulan awal, bayi tidur terpisah dengan saya karena kendala kasur yang kurang besar. Saya masih bisa rajin bangun, berdiri, gantiin popoknya, nyusuin, dan tidur lagi. Sebulan setelah itu, kalau bayi bangun minta asi, saya cuma bangun dikit sambil ngasi mimi, dan skejap tidur lagi. Hehe

Karena saya ngga kerja di luar rumah, maka haidar menyusu langsung sampai saat ini. Pernah beberapa kali saya harus pumping karena keluar rumah untu kwaktu lumayan lama (6jam) dan haidar nyusu pakai botol dot pigeon niple plus. Pumping pertama sebetulnya sejak sepekan setelah lahiran sih. Karena haidar harus difototerapi karena sempat kuning. Masih kagok, wajar.

ASI BANYAK, ASI SEDIKIT
Perhatian, Ibu-ibu menyusui itu sangat sensitif dengan perkataan "itu asi nya adaan ga?", "Asi nya banyak ga?" "Meni kempes", dll. Menohok.

Kata kata semacam itu ngga membuat keadaan menjadi lebih baik. Maka sebaiknya daripada bicara hal semacam itu, lebih baik bawakan saja ibu ibu menyusi dengan berbagai makanan dan minuman bergizi guna memperlancar produksi ASI. Hehe

Ada masanya, ASI terasa begitu banyak,  ada juga masanya ASI kita juga sedikit.
Saya juga ngalamin (salah satunya sekarang, makanya nulis ini panjang pisan prolognya) hehe

Nasihat untuk tetap positif terkadang klise dan terlihat ngga akan menambah kecepatan produksi asi kita, tapi bener deh, emang harus begitu. Pikiran positif, sambil minta dipijet, dan makan minum yang banyak.

Sekian dulu cerita malamnya. (Hah udah jam 00.21!)
Semangat ya ibu ibu menyusui, perjuangan masih panjang dan mengejutkan :D

Kesimpulan saya saat ini, kalau ada kampanye #pejuangASI, perlu ada juga pejuangMPASI, karena ternyata bagi saya, masa MPASI bayi itu, lebih sesuatuu :"""

Next ngobrolin MPASI yaa
Ngga ngobrol sih, curcol kali ya.

Lanjut menjahit lagi :D

Selasa, 19 Juli 2016

Sunday, July 17, 2016

Menjahit Bantal Kojo

Cara seorang lelaki memperlakukan istrinya menunjukkan bagaimana dirinya.

Saya sering malu sendiri kalau sedang diingatkan oleh suami. Saya yang masih amatir mengurus rumah dan segala keperluan beliau, sangat sering lalai, hingga suami yang rajin ini harus turun tangan pada akhirnya.

Entah kelupaan angkat jemuran, lupa cuci keset, lupa tutup pintu dan menguncinya, angkat jemuran ngga dilipet, lupa ngga ngepel, lupa beresin bekas pel, baju yang harus dijahit masih ngantri, lupa matiin air bak, lupa lagi ngegoreng, dan lain lain.

Suami dididik keras untuk bisa melakukan banyak pekerjaan rumah dengan level perfeksionis. Beda dengan saya waktu masih gadis, bisa tapi TIDAK TERBIASA DAN DIBIASAKAN. Padahal yang namanya pekerjaan domestik rumah itu butuh komitmen dan konsisten tingkat tinggi. BISA saja tidak cukup, harus TERBIASA, dan MAU MEMBIASAKAN DIRI. hehe

* * *

Ini waktu suami lagi menjahit bantal “kojo” nya yang sudah sobek. Aduh, saya kelupaan belum nyempetin terus, selama ini cuma dibungkus pake sarung bantal 2 lapis supaya kapuknya ngga mabur 😅😅😩 Sampai saat kapuknya mabur pas mau dipake suami, akhirnya beliau turun tangan. Kubilang aku aja yang jahit, tapi bliau kekeuh. Kekeuh dengan sikap terbaiknya. Kesal dalam hati tapi tetap menunjukkan sikap terbaik bagai orang tak memendam kesal.

Ah..
Terimakasih untuk selalu bersikap baik meski harus sabar menghadapi istri amatir ini 🙏🙏

* hasil jaitannya, lumayanlah, ketutup kok. 😂 Hihi. Dalam hal bersih2, suami lebih jago. Hehe.

Monday, June 13, 2016

Mengaji dengan Niat Melakukan Amalan Terbaik

Banyak sekali yang ingin kutulis, tapi.. ah.. mari memulainya dari sesuatu yang mungkin bermanfaat :)

* * *

Sungguh malam ini hatiku bahagia sekali setelah duduk mengaji walau aku sangat lelah. Mengaji itu pupuknya hati dan akal, ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan iman kita di era hebat ma’siyat ini.” - Ust. M Arifin Ilham

Sebuah kutipan singkat dari salah seorang kakak sealmamater yang orangnya lucu tapi sangat meaningful. Entahlah, saya juga jarang berinteraksi dengan beliau lagi, tapi saya masih bisa merasakan kedalaman makna yang beliau pancarkan lewat tulisan tulisannya.

Ramadhan sudah hari ke-delapan. Begitu cepat, sungguh, bahkan sampai saya tak sempat menulis sepatah dua patah kalimat sambutan di blog berdebu ini.

Ramadhan kali ini, Allah karuniakan pada kami anggota keluarga baru. Haidar sudah 9 bulan saja, tak terasa. Amanah sebagai seorang istri, serta ibu, menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi.

Kelompok halaqah kami punya target harian di bulan ramadhan ini. 2 kali khatam, berarti persebarannya 2 juz perharinya. Tantangan tersendiri, apakah saya bisa mencapainya dengan amanah saat ini ?

Seharuanya bisa. Tak lebih dari 3 jam seharusnya. Tapi saat ini jujur saya masih belepotan mengatur pekerjaan domestik rumah tangga. Hehe. Dan salah satu godaan lain adalah mengurusi online shop hehe.

Ah seharusnya tetap bisa. Banyak yang sudah bisa membuktikannya.

***

Namun perbincangan dengan paksuami, dan diskusi ringan di grup watsap halaqah kami membahas tentang amalan yang terbaik (ahsanu amala), Bukan amalan terbanyak. Bisa dilihat pada surat al-Mulk ayat 2, surat yang sejak 3 bulan lalu saya masih stuck menghapal disini :"" *parah*

"...Supaya Dia mengujimu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya..." (TQS AL-Mulk 67:2)

Menurut Muhammad bin ajlan dari kutipan dalam buku tafsir ibnu katsir, "Yang paling baik amalnya. Dan allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya."

Sejak dulu saya juga punya targetan tertentu yang dikejar, misal dulu hanya 1 juz perhari saja. Namun seiring berjalannya waktu dan pemahaman, target penting untuk standar diri kita pribadi, namun kualitas harus dipikirkan juga.

Kalau kita mau setiap ramadhan selalu lebih baik dengan "hanya" meningkatkan kuantitas tilawah kita, mungkin 30 tahun lagi, target kita 30 juz perhari alias 30 kali khatam?
Untuk apa? Tak diijinkan karena memang pasti kita akan melalaikan kewajiban kewajiban lain. Islam mengajarkan keseimbangan.

Membaca tanpa memahami, kira kira apa dampaknya untuk kehidupan kita?

***
Saya pribadi masih banyak peer.
Bacaan masih harus diperbaiki
Hafalan masih belum komitmen.
Pemahaman quran juga masih sangat minim.

Semoga kita bisa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita dengan shaum, meningkatkan pemahaman dan kecintaan kita terhadap quran di bulan ramadhan. (Seperti yang ust. Nouman ali khan sebutkan dalam status fb nya)

Sabtu 18 juni 2016
Diselesaikan pada ramadhan hari ke 12

Saturday, May 21, 2016

Materi Matrikulasi #1 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga (Part 1)

[Materi Matrikulasi #1 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga]

Materi disampaikan oleh Bu Septi Peni Wulandai dalam Kuliah WhatsApp Grup Matrikulasi Batch 1, pada Senin, 9 Mei 2016 pukul 20.00 – 21.00 WIB.

Salam Ibu Profesional,

Selamat  datang di program Matrikulasi Ibu profesional.
Di sesi pertama ini kita akan membahas tentang 4 hal :
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?
Apa itu Ibu Profesional?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna: 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna: 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh–sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa itu Komunitas Ibu Profesional?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan yang paling unggul di Indonesia.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana tahapan-tahapan menjadi Ibu Profesional?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :

a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Apa indikator keberhasilan Ibu Profesional?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA"

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?
Anak Tangga Ibu Profesional
Anak Tangga Ibu Profesional. Sumber:

Pertanyaan-pertanyaan

#1 Apakah mandiri secara finansial itu suatu keharusan?
Jawaban:
Makna produktif di Ibu Profesional tidak selalu bermakna dengan uang. Bisa produktif berbagi ilmu dan karya. Hanya secara fitrah ketika kita sudah profesional menjalankan peran hidup kita, maka uang itu akan mengikuti kita, bukan kita yang mengejar uang.
Maka kemandirian finansial menjadi salah satu pendukung (bukan satu-satunya) proses terwujudnya rasa percaya diri seorang ibu. Ibu yang PD akan mendidik anaknya jauh lebih baik.

#2 Step pertama apa yang mesti dilakukan untuk melangkah menjadi ibu profesional?
Jawaban:
Lakukan perubahan sekecil apapun yang bisa kita lakukan. Materi sekeren apapun kalau tidak dipraktekkan, akan sia-sia, karena tidak akan membumi dan menjadi amalan kita

#3 Bagaimana kita menemukan misi hidup spesifik? Menurut yang saya pelajari, misi hidup tersebut lebih ke aspek batin atau spiritual dibandingkan aspek sosial ekonomi. Meskipun tidak menampik adanya pengaruh ke arah dua aspek tersebut jika kita telah menemukannya. Mohon pandangan ibu.
Jawaban:
Dalam hidup ini tidak ada yang terpisah-pisah antara aspek batin, spiritual, sosial dan ekonomi, semua menjadi satu kesatuan. Orang yang sudah menemukan misi spesifik hidupnya itu akan paham apa maksud Allah s.w.t menciptakan dirinya di muka bumi ini. Sehingga seluruh perjalanan hidupnya adalah perjalanan menuju DIA. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya tidak perlu heboh mencari peluang, peluanglah yang akan datang padanya.

#4 Apakah memang harus berurutan?
Jawaban:
Apabila belum memiliki anak, mulailah dari bunda cekatan, kalau sudah punya anak, langsung ke bunda sayang. Setelah itu lanjut ke bunda produktif dan shaleha. Karena ini merupakan anak tangga Ibu Profesional, maka sebaiknya dikuatkan setahap demi setahap, agar mendapatkan pijakan yang kuat.

#5 Bagaimana jika ingin menjadi seorang ibu profesional tapi kurang dukungan dari suami?
Jawaban:
Bunda, perempuan itu makhluk luar biasa, diberikan berbagai kekuatan ganda, jadi apabila suami tidak mendukung, tetap berjalanlah dan JANGAN BERHENTI.
Dengan catatan : selama suami tidak mengganggu perjalanan anda sebagai Ibu Profesional, lanjutkan. Tapi kalau mengganggu segera selesaikan dulu rintangan ini.
Setelah anda berjalan, segera mendekatlah ke Yang Maha Membolakbalikan hati. Agar suami kita mau mendukung perjalanan kita mendidik anak. Karena berdasar pengalaman, istri yang tidak didukung suami, akan tetap menjalankan aktivitas mendidik anak dengan BAIK, berbeda apabila kondisi sebaliknya.
Sedangkan  keluarga yang suami istri mau berjalan bersama beriringan, bisa mendidik anak dengan SANGAT BAIK. Sehingga pilihannya hanya dua BAIK dan SANGAT BAIK

#6 Bila berbicara tentang komunitas terkadang secara tidak langsung terbagi menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Yang ibu bekerja kebanyakan jadi terfikir untuk resign demi perkembangan anak anak nya. Bagaimana di iip memandang ini bu?
Jawaban:
Di Ibu Profesional hanya ada satu ibu yaitu IBU BEKERJA. Ada yang memilih BEKERJA DI RANAH DOMESTIK dan ada yang memilih BEKERJA DI RANAH PUBLIK, dua-duanya memerlukan keprofesionalitasan. Sehingga harus mengikuti pijakan-pijakan yang ada.
Ibu yang memilih bekerja di ranah domestik harus menguatkan bunda sayang dan bunda cekatannya sebagai pijakan masuk ke ranah publik dengan dasar ilmu bunda produktif dan bunda shalehah.
Ibu yang memilih bekerja di ranah publik, harus menguatkan bunda produktif dan bunda shaleha dengan benar, agar bisa dengan cepat  mengejar ketertinggalan di bunda sayang dan bunda cekatan.

#7 Ketika ada ibu profesional, bagaimana dengan ayah profesional?  Bagaimana dengan keprofesionalan ayah dalam keluarga?
Jawaban:
Jangan pernah menuntut ayah, karena fitrahnya laki-laki baik-baik itu untuk perempuan baik-baik. Pasangan hidup adalah cermin bagi kita, ketika kita mendapati suami "tidak sesuai harapan" jangan buru-buru menuntut, itu pertanda kualitas kita juga sama. Maka pakai prinsip :
"For Things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST"
Untuk mengubah seseorang, maka ubahlah diri kita terlebih dahulu. Istilah di Ibu Profesional, "proses memantaskan diri'. Jangan pernah berhenti di ranah ini, karena Allah tidak akan rela memberikan kita pasangan hidup yang tidak mau berubah ketika kita terus berubah.
Apabila ingin mengajak para ayah, buatlah aktivitas keluarga, jangan diminta sang ayah menyendiri mencari komunitas sendiri.

#8 Saya sudah menemukan minat dan bakat dan sudah merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat ini tetapi saya tidak tau bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita saya....bagaimana saran ibu?
Jawaban:
Hanya ada dua kata KONSISTEN dan KOMITMEN. Menurut penelitian para ahli, seseorang akan menjadi ahli itu apabila sudah mencapai 10.000 jam terbang. maka tetapkan mulai besok, sehari akan mendedikasikan waktu kita untuk ranah minat dan bakat ini berapa jam?, berkomitmenlah bahwa 10.000 jam terbang anda akan raih selama berapa tahun? setelah itu konsisten di satu hal, jangan berganti-ganti.

#9 Untuk Bunda Sayang, bagaimana menilai bahwa anak bangga dan suka dididik oleh ibunya? Karena yang saya lihat satu anak (7th) seperti menurut agar tidak kena marah, dan yang satu (5th) seperti tidak mau mendengar apa yang saya sampaikan untuk kebaikannya.
Jawaban:
Lihatlah respon mereka, dan IQRA', pertajam hati untuk membacanya. Karena kondisi di atas artinya "komunikasi kita ke anak" belum clear. Maka perkuat materi komunikasi produktif.

#10 Apakah ini merupakan sebab akibat bu? Kalau suami tidak mau / tidak bisa / tidak mampu banyak terlibat, apakah cara ibu ini belum benar / banyak kekurangan dalam mendidik anak-anaknya?
Jawaban:
Tergantung tipe apa suami kita. Kalau tipe suami itu hanya mencari nafkah dan urusan rumah adalah urusan istri, maka semakin kita tidak mampu mendidik anak, semakin tidak ingin terlibat, karena merasa menambah beban pikiran dia. Akhirnya cuek dalam kegalauan. Tapi kalau suami tipe  "family man", melihat istri tidak mampu mendidik anak, akan semakin ingin melibatkan diri bahkan mendidik kita.

#11 Dan siapakah sebenarnya yang harus mulai terlebih dahulu, apakah memang mesti dari seorang ibu dulu?
Jawaban:
Karena anda yang melahirkan, maka jangan pernah bergantung pada siapapun dulu untuk mendidik anak, meski itu suami kita. Andaikata suami kita mau terlibat itu bonus keberkahan yang luar biasa.

#12 Bagaimana cara mendidik anak-anak jika kita masih tinggal dengan mertua yang kadang ada bedanya dalam mendidik anak, anak jadi banyak pola asuhnya.
Jawaban:
Bunda berdiskusilah terus dengan mertua untuk menemukan titik temu pola pendidikan antara kita dan mertua kita. Tentukan mana ranah yang prinsip tidak bisa diubah, dan mana ranah yang fleksible menyesuaikan kondisi. Seringlah ajak ibu mertua berkegiatan bersama, sehingga masing-masing akan saling memahami.

#13 Bagaimanakah cara single mom bisa menjadi ibu profesional? Dan bagaimanakah efek ke anak? Apakah bisa tumbuh seperti umumnya?
Jawaban:
Saya dibesarkan oleh seorang single mom, ayah meninggal saat saya usia 8 th. Ibu menjadi sosok yang sangat tegar saat itu. Perempuan memang ditakdirkan untuk memiliki energi dobel. Sehingga pintar-pintarlah memanage energi tersebut. Logika harus seimbang dengan perasaan. Kemudian untuk peran ayah, ibu saya dulu mendekatkan saya ke pakdhe/ om dari jalur ibu, agar sosok ayah tidak hilang dari kehidupan saya. Alhamdulillah sampai hari ini semua berefek positif.

#14 Bagaimana mengaplikasikan bunda sayang karena yang dirasakan ketika anak bertambah dan semakin besar sepertinya lebih sulit untuk membuat anak bangga dengan didikan ibunya?
Jawaban:
Kuncinya tidak boleh BERHENTI mengaplikasikan sebisa yang kita mampu. Teruslah berjalan, karena tugas kita hanya ikhtiar, hasil itu hak Allah. Jangan terganggu oleh perasaan, saya merasa, sepertinya, katanya dll. Pastikan apa yang bunda jalankan sudah ON Track, maka jangan berhenti meski anak kita makin besar. Karena nanti PR makin banyak dan waktu tidak bisa diputar ulang. Pengalaman saya bunda sayang itu cukup efektif di kisaran usia anak 0-12 th, setelah itu bunda bisa masuk ranah produktif dengan tenang dan bahagia.

#15 Mungkinkah seorang ibu merasa sudah menjalani hal-hal pada tahapan Bunda Sholeha tapi dia merasa ada beberapa hal pada tahapan bunda Cekatan yg belum di kuasainya. Bagaimana pendapat ibu?
Jawaban:
Sangat mungkin, indikatornya apa? Biasanya ada yang tidak seimbang dalam perjalanan kita di Bunda Shaleha. Mulai dari memanage waktu, struktur berpikir, mempolakan aktivitas dll. Kalau menjumpai kondisi ini, lebih baik mundur dulu sesaat untuk membenahi management diri kita di bunda cekatan, setelah itu ambil start lagi dengan persiapan matang untuk bisa mencapai finish di bunda shaleha.

#16 Menjadi ibu profesional sangat saya dambakan dari dulu, materi sudah didapatkan, sering ikut kuliah tapi saya merasa belum profesional juga malah bingung mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan biasanya satu materi dipraktekan, belum selesai saya ganti lagi materi yang lain karena sepertinya penting dan harus segera dan begitu seterusnya. Yang saya dapatkan justru saya merasa setengah-setengah. Bagaimana mengatasinya ya bu dan butuh berapa lama kira-kira kita konsisten dengan satu materi.
Jawaban:
Disini pentingnya membuat checklist profesionalisme perempuan yang jadi NHW #1 kita. Artinya ada skala prioritas yang harus kita kerjakan satu persatu. Mulailah dari yang mudah terlebih dahulu baru beranjak ke tingkat kesulitan yang makin tinggi. Cara menilai adalah per minggu. Misal materi komunikasi produktif, anda akan mulai dengan pekan ini belajar "the power of question" ke anak-anak. Maka lihat bagaimana perkembangan komunikasi anada pekan ini dengan pekan lalu? terus tambahkan hal baru lagi setiap saat.

#17 Saat ini banyak bermunculan komunitas belajar perempuan yang sedikit banyak memiliki kemiripan dengan IIP. Berkaitan dengan visi ibu profesional diatas, apakah ada rencana masa depan untuk membuat program bersama/bersinergi dengan komunitas pendidikan perempuan yang lain bu? Dan adakah bayangan bentuk kolaborasinya seperti apa?
Jawaban:
Alhamdulillah makin banyak komunitas yang tumbuh, bersinergi itu kunci utama teh, selama masing-masing komunitas memiliki core value yang hampir sama. Bentuk kolaborasi yang sangat memungkinkan adalah membentuk jejaring dalam bentuk Community Based Education for Woman. Bahkan saya sedang membayangkan hadirnya Woman University di Indonesia. Ini perlu jejaring.

Nice HomeWork #1 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga, pekan ini silakan membuat: CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN.

Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya.
Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri. Indikator harus:
- SPESIFIK (unik/detil),
- TERUKUR (contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- Bisa diraih
- Berhubungan dengan kondisi permasalahan sehari-hari dan ada BATAS WAKTUnya.

Siapa yang akan menilai?
- Diri kita sendiri
- Anak-anak
- Suami

(Bersambung)
Copas dari postingan teh shanty dewi arifin di grup institut ibu profesional bandung

Telur Dadar Kecap dalam Pernikahan

Setiap orang punya caranya masing masing dalam menjalani hidup.

Boleh tahu telur goreng macam apa yang kamu sukai ? Hihi prolognya so' serius amat ya, padahal saya cuma mau ngomongin telor dadar :"

Saya biasa makan telur dadar yang dikocok bersama penyedap, kecap manis dan saus sambal. Warnanya sedikit hitam, dan banyak hitam kalau sedang gosong hehe. Disantap dengan nasi hangat, sudah lezat.

Entah sejak kapan saya mulai memakan telur dadar dengan cara begitu. Yang saya ingat, dulu saya suka makan telur dadar kecap yang dibarengi dengan sop (?) dipikir pikir aneh juga ya haha 😅 (atau ada teman teman yang begitu juga? Hehe)

Setelah menikah, saya bertemu dengan seseorang yang menyukai cita rasa telur dadar yang berbeda. Katanya, telur dadarnya lebih nikmat kalau banyak daun bawangnya, dan digoreng dengan irisan bawang merah yang digoreng duluan.

* * *

Ketika awal kami bertemu, saya membuatkan telur dadar kecap kebanggaan saya (halah) yang kata saya enak. Ternyata ia tak begitu menyukainya, lidahnya tak terbiasa makan telur semacam itu. Begitupun saya, ketika harus makan telur dadar kesukaan beliau awalnya berpikir "ini telur dadar mainstream." Hihi. (Padahal kayanya itu telur dadar normal yang sudah standar internasional mereun yah :p)

Namanya sebagai istri, membuatkan makanan sesuai yang suami suka,  akhirnya saya juga ikut makan telur dadar versi standar. Awalnya aga aneh, tapi seiring waktu berjalan, bahkan saya sampai lupa kalau saya sukanya telur dadar kecap.

* * *

Mungkin semacam itu analogi yang mungkin terjadi dalam pernikahan. Dua orang dengan kisah hidup berbeda, harus selaras hidup bersama. Saling mempengaruhi, saling membawa. Mungkin juga tak pernah benar-benar jelas siapa yang salah atau siapa yang benar. Jenis interaksi keduanya adalah konsekuensi dari pribadi masing masing.

Dominan di luar, belum tentu tetap dominan pada pasangannya. Resesif diluar, belum tentu tak kuasa mendominasi pasangannya. Kompleks memang.

Maka mungkin pernikahan bukan sekedar aku mau apa, kamu mau apa.

Melainkan : aku begini, engkau begitu, kalau kita bersatu jadinya begini. Mari saling menerima dengan sabar dan syukur. Aku begini, engkau begitu, kalau kita bersatu jadinya begini. Baik ngga? Kalau ngga baik. Harus gimana. Apa yang harus aku perbaiki. Apa yang harus kamu perbaiki. Apa darimu yang perlu kulengkapi, apa dari diriku yang perlu kau lengkapkan. Kita mau kemana, apa tanggung jawabku, apa tanggungjawabmu. Apakah yang sudah kulakukan membuat kita sampai kesana, apakah yang kau lakukan juga begitu?

* * *

Sebuah refleksi yang PENTING BANGET setelah membuat telur dadar kecap kesukaan, setelah sekian lama. Hihi. :p

* * *

Pesan moral : setiap orang itu unik. perbedaan pasti ada, tentang bagaimana memanage diri kita, dan kesiapan untuk saling menghargai keunikan orang lainlah yang menjadi penting.

Jumat, 20 Mei 2016

Monday, May 16, 2016

Dibalik Perempuan bernama Ibu

Ada yang pernah bilang bahwa perempuan itu begitu hebat.

Mengandung calon anaknya sembilan bulan dalam rahimnya, dan setelah lahir masih akan sering menggendongnya sampai batas usia tertentu.
Apakah perempuan yang setelah melahirkan seketika mendapatkan suntikan energi yang membuatnya jadi kuat ? Apakah mereka tidak capek atau pegal-pegal?

Sedetik setelah melahirkan dan jadi ibu, perempuan tetap manusia, tentu saja. Sehingga menggendong anak juga lama kelamaan akan pegal. Sunatullahnya ya BERAT, karena punya massa dan bukan hidup di bulan yang tanpa dipengaruhi gaya gravitasi hihi.

Syukur alhamdulillah Allah menciptakan segalanya dengan tingkatan yang perlahan lahan naik, tidak ujug-ujug. Jadi tubuhnya pun menyesuaikan perlahan lahan.
Bayangkan saja kalau setelah bayi lahir, tiba tiba beratnya 20 kilo? :)

Bersamaan dengan anak yang kemana mana harus digendong, muncul konsekuensi baru. Harus dikemanakan gembolan para perempuan kece yang isinya beranekarupa, belum lagi kini ada tambahan barang-barang keperluan bayi? Saya yakin banyak perempuan yang mampu membawa nya. Tapi, kini selalu ada lelaki baik hati yang siap siaga membawakan gembolan ibu-ibu ini. Mau tidak mau, siap tidak siap (kalo ngga mau jitak aja wkwkw)

* * *
Beginilah kami kalau lagi jadwal menginap ke rumah orangtua kami. Dengan fixxion hitam kami melaju, bahu ayah jadi selalu dihiasi tas ransel kantor, tas selempang kecil, dan tas bayi besar. Berat loh itu, pegal. Belum lagi harus pakai jaket tebal dan penahan angin yang kalau kelamaan pasti kepanasan. Ayah juga sering banget gendongin haidar, jadi ya ngga selalu bunda yang gendong kok :)

Ah terimakasih ayah, sudah selalu siap berbagi peran dan sigap backup in bunda :")  😭😭😭

Ditulis 16 mei 2016
Foto 17 april 2016

"Keluarga super tidak dibangun oleh seorang superman saja. Namanya juga keluarga super : ada superman, ada superwoman, ada superchild. Superdede lain lagi." 😂
Ini quotes abal abal bunda 😅 hehe

Tuesday, April 19, 2016

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah

🍀Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah🍀
Ditulis oleh : Ust.Dwi Budiyanto

Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saatu dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?

Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang resign darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.

Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah. Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.

Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan resign dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat ‘kemaruk’ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.

Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.

Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.

Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.

Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan ‘resign’ tanpa pamitan.

Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir (driver) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.

Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.

Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.

Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.

Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.

Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.

Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin..

===============================

Warmest Regards,
🌐Public Relation Department PD KAMMI Jakarta Timur🌐

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah

🍀Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah🍀
Ditulis oleh : Ust.Dwi Budiyanto

Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saatu dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?

Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang resign darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.

Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah. Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.

Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan resign dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat ‘kemaruk’ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.

Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.

Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.

Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.

Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan ‘resign’ tanpa pamitan.

Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir (driver) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.

Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.

Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.

Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.

Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.

Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.

Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin..

===============================

Warmest Regards,
🌐Public Relation Department PD KAMMI Jakarta Timur🌐

Thursday, April 7, 2016

Mengapa harus di "nanti, nanti" kan ?


Banyak dari kita sering berkata,
"aku mau berubah nanti kalau bla bla bla."
"Ngerjainnya nanti aja kalau udah blablabla"
"Sekarang enggak akan bisa, nanti aja kalau blablabla."

Benar ?

Ah tak perlu menunjuk siapapun, cukup berkaca saja. Kita sering terlena dengan rutinitas kita, sehingga saat ingin membuat komitmen atau membangun kebiasaan baru, kita jadi begitu sulit mewujudkannya.

Belum sholeh lagi, euy!
Iya nanti kalau bayi udah gede, udah ngga repot, bisa belajar solehah lagi. Kalau udah punya uang banyak nanti sedekah nya dilakuin lagi. Kalau rumah udah beres, nanti tilawahnya rutin sehari sejuz lagi. Blablabla ...

Belum tentu saat "nanti" nya tiba, kamu inget. Belum tentu nanti kamu nya siap, belum tentu kondisinya memungkinkan, belum tentu kamu udah ngga punya excuse apa-apa lagi.

Kehidupan itu selalu naik setingkat demi setingkat. Berhasil atau tidak nya kita lulus pada tahapan ini mungkin bisa kita abaikan, ga kerasa sekarang. Tapi, akan menggambarkan bagaimana kondisi kita di tahapan selanjutnya, yang lebih tinggi tentunya. Belum tentu energi kita saat "nanti" itu cukup besar atau bahkan masih ada.

Belum tentu jatah usia kita masih ada saat "Nanti" itu tiba.

Kamis, 7 april 2016
#Odopfor99days #day26

Tuesday, March 29, 2016

Sesaat Setelah Operasi Sesar


Mampu melakukan banyak hal secara mandiri, adalah salah satu hal yang sangat perlu kita syukuri. Akan begitu terasa ketika sebentar saja kita hanya bisa terbaring tak berdaya, dan melihat orang-orang tersayang kita melakukan banyak hal untuk membantu kita.
--Hajah Sofyamarwa

Perasaan itu begitu membuncah setelah 8 jam operasi sesar selesai. Bius spinal yang membuat sebagian tubuhku 'baal' sampai kaki baru mulai berangsur menghilang setelah 5 jam, membuatku panik tak bisa tidur karena merasa linu pada bekas luka sesar.
Maklum, rasanya baru kali ini aku mengalami sebuah operasi.

Malam itu setelah haidar lahir, aku tak bisa langsung mendekapnya dan mewujudkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) seperti yang kubayangkan sebelumnya. IMD yang kubayangkan adalah ketika sang bayi menelungkup ke dadaku, berusaha berjuang menggapai tetesan colostrumnya yang pertama. Haidar harus diobservasi dulu sekitar 6 jam. Pada waktu sepertiga malam sembari panik karena sakit tak bisa tidur, kutanya perawat kapan bayiku dibawa masuk ke kamar, katanya pagi, setelah haidar mandi, karena lepas itu bayi harus sudah diurus orangtuanya. Aku hanya bisa bersabar, toh aku masi belum bisa apa apa, kakiku masih mati rasa. Setelah shalat subuh dan tersadar bahwa aku sedang tak wajib shalat (nifas) akhirnya aku tertidur lagi. Alhamdulillah pukul setengah tujuh pagi, kami bertemu, dan dengan susah payah haidar mendapatkan colostrum pertamanya. Repot sekali badanku rasanya, mau miring kanan atau kiri saja setengah mati! Hehe

* * *

Mereka dan Dukungannya
Aku merasa begitu terbantu ketika seluruh keluarga membantu dan mensupport kami. Suami yang terus mendampingi, bapak, mamah, bov, ifa, mashan, caca, ica, bapak, ibu, eneng, alfath, aki, ema, sodara sodara, --bahkan yang berkunjung juga kebagian gantiin popoknya hehe. Mencucikan baju, kain pernel, dan popok haidar; menggantikan popok kainnya saat basah; mengambilkan barang untukku; menjemur haidar; dan lain sebagainya. Aku juga salut pada para perawat dan bidan yang membantuku untuk seka, menggantikan pembalut nifasku, membersihkan badanku. Serius, aku pasrah saja, karena memang belum bisa ngapa-ngapain sendiri.

Belajar Berjalan
Kata dokter, pasca operasi 6 jam, aku baru boleh makan, latihan miring kanan - miring kiri dengan kasur yang tetap datar. Setelah 24 jam bisa belajar duduk, dan besoknya boleh belajar jalan kalau sudah merasa kuat.

Ya allah.. karena terlalu lama berbaring, sulit sekali rasanya menurunkan kaki dari kasur, belum lagi saat mau mulai menginjakkan kaki ke lantai..
ya rabb..

Tiba tiba muncul adegan film one liter of tears di benakku, ketika sang tokoh utama yang sakit sedang belajar jalan sambil tertatih. Lebay, tapi emang muncul rasa itu hehe. Baper, jadi mewek sendiri deh, rasanya ga berdaya banget. Huhu.
Sambil jemur haidar, suamiku sambil mapah aku yang belajar jalan :") payah banget deh saat itu aku ngerasanyaaaa

***
Keluar dari Rumah Sakit
Tanggal 8 September 2015 hari Selasa sore aku masuk RS, dan pulang 2 hari kemudian pada hari kamis malam. Katanya sudah boleh pulang kalau aku sudah bisa pipis sendiri, berjalan sendiri ke kamar mandi. Sedari siang belum muncul rasa ingin pipis, karena sebelumnya masih pakai kateter, jadi rasa nya belum di bawah kendali diri sendiri.

***

Bersambung ya :)

#Odopfor99days
#day25

Friday, March 25, 2016

Menjadi Reseller Buku 5 Guru Kecilku Teh Kiki Barkiah


Saya belum pernah bertatap muka sekalipun dengan teh Kiki barkiah. Pertama mengenal beliau sebatas lewat dunia maya, dalam grup FOCER (Forum Curhat Emak Rempong), tak lama setelah saya menikah 30 November 2014 lalu. Itupun tak intens, hanya selewat saja. Rajin memoderatori grup dan sharing hal-hal bermanfaat yang ngena banget buat para emak-emak. Saat itu saya masih belum merasakan kerempongan yang para anggota grup bicarakan. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata kami sealmamater, beliau lulusan Elektro ITB, beda tahun angkatan tentu saja.

Saya berteman dengannya lewat facebook, lebih tepatnya minta request berteman pada beliau, sampai akhirnya sering membaca tulisan-tulisan beliau dari update-an statusnya. Bisa dibilang saya skip, dan baru sadar bahwa teh Kiki udah mau launching buku ke 2 nya setelah sepupu saya (Mba Dyah) nawarin untuk ikutan preorder bukunya. Karena banyak teman yang juga berminat, akhirnya saya mendaftarkan diri menjadi reseller resminya. Minimal pembelian 100 pcs saja pada waktu itu bikin saya maju mundur. Jadi ngga ya? Laku ngga ya? Reseller bandung nya aja udah bejibun banyaknya, emang peminat bukunya banyak banget sampai semua buku di reseller bakal habis? Pasti ada titik maksimal dong dimana semua followers teh kiki sudah dapat bukunya, nanti buku ku laku gak, ya?

Yah begitulah, tukang dagang masih amatir, 100 buku aja masih takut-takut. Bahkan sempat hampir menyerah dan minta dikurangi jatah. Tapi karena udah komit sama diri sendiri, pesan 100 ya harus bayar 100 pcs. Bismillah. Belakangan saya tahu bahwa ada yang sudah berhasil menjual sampai 2000 buku, maka 100 buku di saya apalah artinya. Hihi.

Saya mendapat jatah percetakan batch 2 saat itu, artinya sebelum saya dapat bukunya, banyak yang sudah baca bukunya duluan dan puas. Masih harap-harap cemas, antara ingin segera baca, udah ditanyain sama para customer, dan yakin ga yakin 100 pcs ini bisa habis. Saat hari H bukunya ready, Alhamdulillah sudah setengahnya dipesan. Masih sisa 50, tapi saya makin semangat karena buku udah di tangan. Udah santai.

PENGIRIMAN BUKU
Lokasi saya yang cukup dekat dengan pengambilan bukunya membuat saya berpikir untuk mengambilnya sendiri. Agak bingung pada awalnya karena sekarang kemana-mana udah bawa anak. Akhirnya saya ke rumah orangtua dan pake motor maticnya buat bawa gembolan bukunya. Beli dulu tali rapia dan gunting buat packing. Alhamdulillah 100 pcs masih bisa muat di atas motor, sampai saya baru sadar bahwa masa kini sudah ada GOJEK *plis jah haha* Eh tapi ngga apa-apa jadi bisa silaturahim sama Nadine, ponakannya teh kiki (anaknya teh siti Maryam). Biasanya kan Cuma ketemu lewat facebook hehe. Packingan selesai dalam 2 jam, tepat pukul 3 saya bawa gembolan ke JNE, ternyata udah tutup. *pukpuk besok lagi ya* Saya pulang dalam keaadan mata basah (bukan air mata, tapi air hujan. Bukan Cuma mata yang basah tapi sebadan-badan dan semotor-motor hehe). Singkat cerita keesokan harinya semua terkirim, dan sisanya saya bawa pulang.

ALASAN JADI RESELLER
Pada dasarnya saya kepingin banget punya bukunya, itu aja. *toss pada para doyan buku* hehe.
Cari cara supaya bisa dapat harga lebih murah, maka ingin jadi resellernya. Waktu jadi reseller buku nya Kang Canun dan Teh Fufu yang Rumah Tangga Surga juga, alasannya karena itu. Pengen punya bukunya. Yakin bagus jadi bisa rekomendasi ke temen-temen. Pada perjalanannya saya sempat berpikir “cuma hemat berapa doang, tapi malah jadi repot sendiri. Hihi”. Seru sih, Alhamdulillah. Bukunya kang Harri Firmansyah juga saya daftar jadi reseller karena pengen bukunya. Hehe.

TAKJUB
Yang bikin saya takjub dari para penulis itu adalah bahwa mereka suka mengingatkan para reseller untuk meluruskan niat. Niatnya untuk menjadi jalan kebaikan, menjadi penyalur informasi dan dakwah, bukan semata menjadkan mereka komoditas (yang ini mah kata kang Harri). Urusan bonus rejeki mah Alhamdulillah, tapi intinya jangan lupa.
Saya takjub sama animo followers teh kiki yang sampai saat ini masih ada aja yang pesan bukunya teh kiki. Semacam ngga ada habisnya. Denger-denger cetakan pertama buku bagian 1 aja sehari ludes 14.000 copy. Masya Allah. Semoga Allah merahmati mereka dan menjaga niat mereka, yang kegiatan menulis menjadi salah satu jalan dakwah dan kebaikannya.
Tentang isi bukunya mungkin di postingan lain ya :)


FINALLY
Buku 5 Guru Kecilku Bagian 2 masih ada. Bagian 1 sedang cetak ulang dan sebentar lagi ready. Pesanan preorder sudah berdatangan kembali, dan dahsyatnya masih terus dicari. Barakallah..
*lirik HP yang tetiba ngga bisa nyala sejak tadi* :O Ya Allah..


Jumat, 25 Maret 2016 pukul 01:09
Hajah Sofyamarwa R.

#ODOPfor99days #day24

Thursday, March 24, 2016

Setelah Membolos Kelas ODOP Tanpa Kabar Selama 36 Hari

Setelah Membolos Kelas ODOP Tanpa Kabar Selama 36 Hari


Kepada Yth.
Ketua Kelas dan teman tercinta ODOPfor99days
Di Tempat.

Hari demi hari rasa tersayat *lebay*melihat notifikasi Facebook Apps di HP dalam group ODOPfor99days selalu ramai oleh semangat konsisten dari para peserta kelas. Bagaimana tidak, per 24 Maret ini sudah masuk postingan hari ke 58, yang mana dimana saya sudah berhenti pada hari ke 22. *jelegerrr*

58 – 22 = 36.
36 hari sudah saya tertinggal kelas. Kalau ingat jaman sekolah dulu yang ada 3 cawu (caturwulan), berarti saya ibarat 1 “caturwulan” ngga masuk kelas *jelegerr
Dan belum jalan 1 caturwulan, saya udah bolos kelas. *huks*
36 hari itu, terserah bagaimana saya. Tidak ada keharusan mengejar ketertinggalan itu. Mau dianggap udah ngga ikutan lagi bisa, dan mau dianggap jadi hutangpun bisa. Tapi poinnya adalah bukan hanya hasil berupa 99 postingan, melainkan pada komitmen dan konsistensi. Sekarang sudah terlihat kan? *cry*

Keterangan Tidak Masuk Karena Alfa
Selama sebulan setengah belakangan ini saya ngga masuk hutan lari ke pantai yang ngga ada sinyal. Saya masih di perkotaan dengan sinyal yang mumpuni. Handphone sebagai alat posting ODOP pun selalu bersama saya setiap saat. Ada apa? Belakangan lagi sok sibuk belajar jualan. Mantengin line, instagram, facebook, WA dan sms buat nyari peminat barang yang saya tawarkan *KenaVirusEmakOlshop. Selain itu, saya juga masih deg-deg an karena haidar udah mulai MPAsi *ternyata jadi drama tersendiri juga*

Ketika oranglain bisa konsisten sampai hari ini, sementara saya tertinggal jauh, sejujurnya sedih. Tapi mungkin kembali lagi ke prioritas kita masing-masing ya. Hal mana yang mau diprioritaskan, hal mana yang mau ditunda dulu. Mudah-mudahan saya masih bisa akselerasi proses menulisnya.

Bertambahnya kerjaan *yang dibikin bikin sendiri ituh*, ternyata sukses membuat saya jarang pergi ke pasar dan masak buat suami. Kerasa banget deh keteterannya. Jadi sering makan seadanya, bahkan jadi beli di luar.
Yang aku ga ke pasar tadi huhu T_T” kata saya
Iya gapapa, ayang mau makan apa? ^^” kata suami
Saya suka ngerasa bersalah kalo ngga ke pasar dan ngga masak, tapi suami masiih aja nawarin saya mau makan apa. Sebenernya mungkin dia sedih juga, tapi ngga mau bikin saya sedih karena dia sedih. *Terharuu*

Ceritanya Warming Up
Dan karena ini postingannya ceritanya warming up, jadi maapkeun kalau isinya curcol semua ya. Tulisan ini dibuat hari kamis jam 23:11 ketika sang ayah dan sang bayi sudah terlelap. Ngampar di karpet ngetik di laptop. Dan hey, feeling buat nulisnya lumayan keluar lagi :D Mungkin selama ini energi ngetik panjang nya cuma buat dagang. Jadi ngga posting ODOP pake hape karena lebih tertarik buat ngetik urusan dagangan hehe. Kalo posting sih saya hamper tiap hari, tapi ngga di tagar #ODOPfor99days karena ngga merasa layak ._. harus dicoba lagi ah. Udah komitmen di awal, dan harus menghidupkan lagi budaya menulis di diri ini *selain menulis orderan wkwkw*
Wah jadi keingetan, domain www.hajahsofya.com tanggal 25 besok udah harus diperpanjang. Bung Eka Pramudita, siap-siap saya kontak buat perpanjang domain di Wide Host Media ya. Heu *tuh di endorse, Ka. hehe

Lumayan geuning, udah 415 kata. Tuh kaan, harusnya bisa. *menulis memang gampang, yang sulit adalah membuat tulisan kita layak dan bermanfaat bagi orang lain*

Udah dulu ya. Lanjut postingan selanjutnya aja J

Kamis, 24 Maret 2016
#ODOPfor99days #day23